Tuesday, 15 September 2020

Terjebak Jeratan Rentenir

Ketika kita mendengar kata "Rentenir", pasti pikiran kita akan langsung mengarah ke perihal hutang. Memang hal tersebut tidaklah salah karena Rentenir atau Lintah Darat atau Tengkulak itu erat kaitannya dengan masalah hutang-piutang.
Setiap orang pasti punya definisi tersendiri dengan yang namanya Rentenir, bahkan ada yang beranggapan bahwa Rentenir itu adalah manusia yang sangat kejam sifatnya karena dia meminta bunga yang sangat tinggi dari uang yang telah dia pinjamkan.

Disini saya tidak ingin menjelaskan arti dari rentenir karena saya percaya Anda bisa mencari sendiri arti tersebut.
Saya disini akan berbagi pengalaman saya yang pernah berhubungan langsung dengan seorang Rentenir, atau istilah lainnya terjerat hutang kepada seorang Rentenir. Dan itu terjadi selama 2 tahun.
Cerita pengalaman saya ini mungkin cukup panjang, karena itu tidak ada salahnya siapkan dulu cemilan, kopi atau teh dan juga rokok Anda. Tentu saja nama-nama yang ada di dalam cerita saya ini saya samarkan karena ini menyangkut teman-teman saya juga, jadi mohon dimaklumi.

Kejadian ini terjadi kira-kira 3 tahun yang lalu. Saat itu teman saya, sebut saja A meminta tolong untuk mencarikan uang sebanyak 10 juta rupiah karena ada sebuah kebutuhan. Jujur saja saat itu saya tidak memiliki uang sebanyak itu. Rasa iba dan ingin menolong itu muncul karena desakan dari dia dengan memohon kepada saya. Dan dia berani menjanjikan akan membayarnya setelah dia mendapatkan fee dari proyeknya, kira-kira sebulan. Karena saya sudah mengenal lama dan mengenal baik dia, saya pun percaya dengan janjinya.
Singkat kata, saya coba mencarikan pinjaman ke teman kecil saya, sebut saja B. Tentu saja dengan alasan bahwa saya yang meminjam karena ada suatu keperluan. 
Sebab jikalau saya mengatakan bahwa untuk meminjamkan ke teman, kecil kemungkinan dia bisa membantu.
Karena kedekatan kami sedari kecil, bahkan rumah kami pun berdekatan, akhirnya dia meminjamkan uang 10 jt kepada saya.
Kemudian saya serahkan uang tersebut kepada A yang membutuhkan bantuan saya tadi, tentu saja saya beritahu bahwa uang tersebut saya dapatkan dari meminjam teman saya yang lain.
Disinilah awal ketidakjujuran saya yang akhirnya saya sesalin. Saya tidak jujur kepada B bahwa uang tersebut saya pinjamkan juga ke orang lain.
Setelah 1 bulan, B ini menagih janjinya kepada saya. Saat itu saya mencoba menagih ke A karena dia mungkin sudah mendapatkan fee dari proyeknya. Tapi ternyata asumsi saya salah, dia belum sanggup membayar dan meminta kelonggaran. 
Akhirnya semacam pesan berantai, sayapun meminta kelonggaran kepada teman saya.
Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tetap saja A belum sanggup membayar uang tersebut kepada saya, dan tentu saja untuk kesekian kalinya saya meminta kelonggaran kepada B dengan berbagai macam alasan.
Setelah mungkin ada 3 bulan, akhirnya kesabaran si B tersebut habis, datanglah dia kepada keluarga saya dan menceritakan semuanya kepada keluarga saya.
Bisa Anda bayangkan apa yang terjadi setelah itu kan? Saya kena semprot dan marah dari keluarga. Rasa bersalah itu muncul di dalam hati karena saya telah mempermalukan keluarga.
Dikarenakan rasa panik, gugup dan rasa bersalah, saya mencoba mencari pinjaman lagi untuk melunasi hutang tersebut.
Saat itu saya merasa bahwa tidak bisa mengandalkan A tadi karena dia sendiri tidak memiliki dana untuk membayar hutangnya kepada saya. 
Akhirnya saya coba mengontak teman yang dulu 1 kos dengan saya waktu masih merantau di Yogya. Sebut saja namabya C. Tentu saja saya bilang bahwa saya ada keperluan mendesak. 
Satu kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan berikutnya, dan itulah yang saya lakukan. 
Sekali lagi saya membohongi C hanya demi mendapatkan uang agar bisa secepatnya membayar hutang kepada B.
Dikarenakan kami pernah 1 atap di Yogya dan pernah senasib seperjuangan, dia bersedia membantu saya.
Namun saat itu, C tidak memiliki uang sebanyak itu karena uangnya sudah dia belikan motorsport secara tunai/cash.
C menawarkan untuk menggadaikan surat kendaraannya namun saya yang harus menebusnya, tentu saja beserta bunganya.
Dalam suasana panik dan gugup, saya setujui penawarannya. Akhirnya di sebuah hari yang telah kami sepakati, kami berangkat menggadaikan BPKB motor C. Awalnya saya mengira akan digadaikan ke Pegadaian atau sebuah Koperasi Simpan Pinjam (Kospin), ternyata bukan. Kami bertemu dengan seorang lelaki tua dengan tampilan khas Betawi di sebuah desa kecil di daerah Bogor. C memanggilnya Abah.
Dia menjelaskan alasannya lebih memilih mendatangi Abah daripada ke Pegadaian atau Kospin karena prosedurnya yang sangat cepat, hanya hitungan menit dan tanpa cek ini itu. Berbeda dengan Pegadaian dan Koperasi yang harus menunggu dan adanya survey.
Namun konsekuensinya adalah bunga yang jauh lebih tinggi dibandingkan lembaga formal. Saat itu bunga yang harus kami bayar adalah 20% untuk peminjaman 1 bulan, andai dalam 1 bulan tidak bisa melunasi, maka motorsport C akan diambil.
Dengan kata lain, bulan depan saya harus membayar 12 jt untuk melunasi itu semua.
Tanpa pikir panjang, saya sanggupin. Saya sudah tidak bisa berpikir panjang karena saat itu saya hanya berpikir bagaimana caranya agar uang B itu bisa saya lunasi.
Tanpa saya sadari, disitulah awal mula saya berurusan dengan seorang Rentenir, yaitu Abah, dalam hidup saya. Dulu saya hanya mengetahui seorang Rentenir hanya dari sebuah cerita atau tayangan di televisi, namun sekarang saya malah langsung menghutang kepada Rentenir.
Saat itu saya hanya berpikir kalau bulan depan pasti A sudah memiliki uang dan bisa melunasi hutangnya.
Sedikit informasi bahwa saya cerita semua kepada si A, dan juga perihal saya meminjam ke C lalu berurusan dengan Abah. A pun berjanji bahwa dia akan mendapatkan uang untuk melunasi semuanya termasuk dengan bunganya.
Singkat cerita, hampir satu bulan berlalu, di suati sore, C mengirimkan pesan menanyakan perihal pinjamannya ke Abah. Dia berkata bahwa jatuh tempo kurang 2 hari lagi. Tak lama kemudian, langsung saya tanyakan ke A bagaimana perihal hutangnya ini dan ternyata jawabannya jauh di luar dugaan. A tidak memiliki uang untuk melunasinya.
Alhasil saya kembali panik dan kalut. Andai motor C sampai disita Abah, tentu saja saya jadi satu-satunya manusia yang paling bertanggungjawab atas semua itu. Padahal saya tahu bahwa untuk bisa membeli motorsport idamannya, C harus menabung lama.
Disitulah saya sadar bahwa saya bersalah dari awal karena tidak jujur.
Akhirnya saya beranikan diri untuk berbicara jujur kepada C dan saya siap untuk menanggung semua konsekuensinya sebagai bentuk pertanggungjawaban saya. Tentu saja C marah besar saat tahu bahwa saya tidak mempunyai uang dan saya tidak jujur. Namun Alhamdulillah karena kami berteman dari dulu dan pernah mengalami susah bersama, C bersedia memaafkan ketidakjujuran yang telah saya lakukan.
Tapi tidak cukup sampai disini saja, ada konsekuensi yang harus saya tanggung, yaitu perihal hutang.
Ketika jatuh tempo hutang kurang 1 hari, kami kembali mendatangi Abah. Disana saya berkata jujur bahwa sebenarnya sayalah yang menghutang dan saya siap menanggung konsekuensinya, dalam artian perihal pembayaran, saya yang bertanggungjawab melunasi semua itu. Namun disitu saya meminta keringanan pembayaran supaya bisa dicicil.
Hal itu tentu saja tidak serta-merta langsung disetujui oleh Abah. Abah menanyakan pekerjaan saya, saya kerja dimana, atau saya wirausaha dan dimana tempat usaha saya. Saya jawab secara jelas dan terperinci perihal usaha dan dimana tempat usaha saya.
Sebelum menyetujui tentang pengajuan keringanan pinjaman, pihak Abah ingin melihat tempat usaha saya sebagai bahan pertimbangan. Ibarat sebuah Leasing, mungkin melakukan sebuah survey calon nasabah terlebih dahulu.
Singkat cerita, keesokan harinya datang 3 orang perwakilan dari Abah ke tempat usaha saya, kami ngobrol basa-basi sebentar. Lalu salah satu orang itu menyampaikan bahwa besok diminta Abah untuk datang lagi ke kediaman beliau. Masalah waktu dan jamnya terserah saya, sebisa saya.
Keesokan malam sehabis Maghrib, saya kembali mendatangi Abah. Tentu saja banyak harapan di pikiran saya, diantaranya jangan sampai motor si C itu diambil oleh pihak Abah karena saya.
Oiya, secara kepribadian, Abah bukan orang yang galak dan judes seperti seorang rentenir yang kita lihat di acara-acara TV. Dia sangat ramah dan penuh senyum.
Setelah kami berbasa-basi, Abah menanyakan apakah saya sanggup mengangsur sebanyak 1 juta per bulan. Tanpa pikir panjang, saya sanggupi. 
Asumsi saya bahwa hutang sebesar 12 juta (sudah termasuk bunga), bisa saya lunasi dalam kurun waktu 1 tahun paling lama jika cicilannya 1 juta per bulan.
Namun lagi-lagi asumsi saya salah.
Selang beberapa lama, Abah menyodorkan 2 lembar kertas yang isinya perjanjian hutang-piutang dan copy-annya. Setelah saya baca dengan seksama, ternyata memang benar bahwa cicilan hutang saya itu 1 juta per bulan, namun harus dicicil selama jangka waktu 2 tahun. Berarti hutang saya yang awalnya 10 juta menjadi 12 juta karena bunga lalu membengkak lagi menjadi 24 juta karena cicilan 1 juta selama 2 tahun.
Tentu saja saya keberatan dan saya ungkapkan itu kepada Abah karena itu sangat jauh nilai pembengkakan hutang pada akhirnya.
Dengan wajah ramah, Abah memberikan 3 opsi kepada saya,
Pertama : silakan tanda tangani surat itu,
Kedua : tidak perlu ditandatangani jika keberatan, namun silakan besok kembali lagi kemari sembari membawa uang 12 juta,
Ketiga : tidak perlu tandatangani surat ini dan tidak perlu kemari besok dengan uang pelunasan, namun pihak Abah akan langsung mengambil motor milik C.
Disitulah pikiran saya langsung buyar dan panik karena tentu saja saya tidak ingin membuat C kehilangan motor barunya karena ulah saya. Akhirnya terpaksa saya tandatangani surat perjanjian itu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, saya menjalani rutinitas seperti biasa dan tentu saja dengan cicilan hutang tersebut. Terkadang terasa berat saat kondisi pemasukan sedang sulit, terkadang saat ada uang lebih, saya simpan untuk bulan berikutnya. Sedikit info bahwa di surat perjanjian itu harus dibayar rutin perbulan, jadi saya tidak bisa bayar untuk beberapa bulan kedepan sekaligus.
Hubungan saya dengan C Alhamdulillah tetap baik-baik saja walau pada awalnya dia nyaris kehilangan motor barunya karena saya. Mungkin banyak yang bertanya bagaimana dengan si A yang menjadi awal mula hutang ini?
Saat itu untuk beberapa saat, A menjauhi saya dan seakan memusuhi saya dengan alasan yang menurut saya sangat tidak mendasar. Jangankan membahas perihal 10 juta, menyapapun tidak.
Sempat pada suatu saat, saya sedikit sakit hati dan emosi sesaat muncul karena disaat saya sedang terjerat dengan cicilan hutang, saya melihat A memposting foto sebuah slip transferan sebesar 100 juta kepada orang tuanya. 
Tapi itu hanya emosi sesaat saja walau ada anggapan bahwa saya punya hak untuk marah. Namun saya tidak ingin melakukan itu.
Dan Alhamdulillah setelah 2 tahun akhirnya hutang saya kepada Abah bisa lunas, saat itu saya benar-benar bersyukur, serasa hilang sudah 1 beban berat saya. Saya anggap itu sebagai pelajaran hidup dan pengalaman yang sangat berharga.
Saya berharap itu pengalaman pertama dan terakhir berhubungan dengan seorang rentenir.

Begitulah cerita panjang tentang pengalaman saya terjerat hutang kepada rentenir. Pesan saya untuk semua yang membaca, jauhi itu rentenir, jikalau bisa, janganlah menghutang karena membuat hidup tidak tenang.

Oiya, untuk masalah dengan A, mungkin akan saya lanjutkan lagi lain waktu karena ada sangkut-pautnya dengan hutang yang nominalnya jauh lebih besar dibandingkan ini dan tentu saja melibatkan saya.

See you next time, jangan lupa tersenyum 😁


Monday, 1 June 2020

Jangan Abaikan Kebaikan Orang Lain

Tulisan ini saya buat untuk saya tujukan kepada diri saya sendiri yang masih sering tanpa sadar mengabaikan atau bahkan melupakan kebaikan yang telah orang lain perbuat kepada diri saya.
Ada dua hal dalam hidup ini yang mesti kita ingat, yaitu Kebaikan orang lain kepada kita dan keburukan kita kepada orang lain.

Pertanyaannya adalah mengapa kita harus berbuat seperti itu?
Karena yang membahayakan diri kita itu bukanlah perbuatan orang lain, demikian pun yang memberikan kebaikan kepada kita bukanlah perbuatan orang lain juga. 
Perbuatan diri kita sendirilah yang akan memberikan kebaikan dan keburukan untuk diri kita sendiri.

Jadi, ada dua hal yang penting adalah mengingat kebaikan orang lain kepada kita dan mengingat keburukan kita kepada orang lain. 
Dengan mengingat segala keburukan yang sudah kita lakukan kepada orang lain akan membuat kita senantiasa menjadi manusia yang ingat dosa, ingat untuk bertobat dan meminta maaf kepada manusia lain. Selain itu juga memotivasi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Begitupun sebaliknya, dengan kita mengingat kebaikan orang lain kepada kita akan membuat kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan selalu ingat dengan terima kasih. Dan kita pun menjadi termotivasi untuk memberikan kebaikan kepada orang lain meskipun andai dia tidak pernah mengharapkan itu.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah."
(HR. Tirmidzi).
"Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak sanggup membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur."
(HR. Thabrani).

Jika kita merasa sering menjadi beban bagi orang lain, ataupun merepotkan orang lain, siapapun itu, entah itu tetangga, kawan, sahabat ataupun saudara kita, maka setidaknya kita punya inisiatif untuk membalas budi baiknya meskipun orang itu tidak mengharapkan balasan tersebut.

Jika dikaitkan dengan hadist di atas tadi, maka bisa disimpulkan bahwa berterimakasih kepada orang lain merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya, pertolongan-Nya dan rezeki-Nya kepada kita melalui perantara orang tersebut. 
Barang siapa yang terbiasa mengingkari kebaikan orang lain, maka sebenarnya dia mempunyai tabiat mengkufuri nikmat Allah SWT.

Inilah pentingnya supaya kita tidak mengabaikan atau melupakan kebaikan orang lain kepada kita dan senantiasa berterimakasih kepada mereka atas kebaikan yang mereka berikan.

Mengapa saya membuat judul seperti itu? Karena sering kali kita (terutama saya) abai dan lupa akan kebaikan seseorang hanya karena sebuah kesalahan. Sering kita (terutama saya) melupakan segala jasanya hanya karena sebuah pertengkaran dan rasa marah. Atau mungkin hanya karena sebuah ego.

Di dalam QS. Al-Baqarah ayat ke 237 disebutkan, " Memaafkan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Ayat tersebut turun berkaitan dengan perceraian. Digandengkan kata "memaafkan" dan "jangan lupa kebaikan" seakan-akan ingin menunjukkan bahwa sebesar apapun kesalahan seseorang, jangan pernah menghilangkan kebaikan yang pernah ia lakukan kepada kita. Kebaikan tetaplah kebaikan. Dan janganlah kita menjadi orang yang tak tahu balas budi.

Semoga kita (termasuk saya) tidak termasuk manusia yang mudah mengabaikan kebaikan orang lain.

Monday, 20 April 2020

Jangan Mudik Dulu

Tulisan ini saya tujukan untuk semua saudara-saudara yang sampai saat ini masih ada di perantauan, khususnya saudara-saudara yang berasal dari Kabupaten Wonosobo. Teruntuk Anda semua, tolong jangan mudik dulu. Tahan dulu rasa rindu Anda.

Walaupun dari Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah tidak mengeluarkan larangan untuk mudik dan ini hanya bersifat himbauan, tolong turuti saja karena semua itu demi memotong rantai penyebaran virus Covid-19, demi keselamatan kita bersama, demi keselamatan keluarga di kampung dan tentu saja demi kesehatan finansial keluarga di kampung sebab yang dari kampung bisa menyelamatkan kita di perantauan.

Mengapa saya menyebut kota Wonosobo? Karena saya sendiri berasal dari kota kecil itu dan saya anggap kehidupan masyarakat Wonosobo bisa secara umum mewakili kehidupan masyarakat di kota-kota kecil lainnya. 

Ada beberapa alasan mengapa sebaiknya kita tidak mudik.

Pertama
Tak terbantahkan bahwa Jakarta mempunyai segala fasilitas yang jauh lebih maju dibandingkan dengan yang ada di daerah-daerah lain atau kota-kota yang lain, dalam hal ini fasilitas kesehatan maupun alat kesehatannya. Namun di saat pandemik virus Corona ini, kita bisa melihat bagaimana pontang-pantingnya tenaga medis yang ada di Jakarta, termasuk dengan ketersediaan alat-alat medis, diantaranya Alat Perlindungan Diri untuk semua tenaga medis yang ada. Bahkan ada beberapa bangunan yang dialihfungsikan sebagai Rumah Sakit darurat untuk menampung pasien-pasien Covid-19.
Coba bayangkan apa yang terjadi jika terjadi lonjakan pasien Corona di kota kecil seperti Wonosobo dengan segala keterbatasannya? Rumah sakit yang tidak sebanyak kota-kota besar seperti Jakarta, belum lagi jumlah ketersediaan tenaga medis dan alat-alat medis yang ada. Bisa Anda bayangkan betapa susah dan repotnya para tenaga medis dan Pemerintah Kabupatennya? Ini kita baru membahas tentang tenaga medis dan Pemkabnya yang pastinya bakalan kerepotan, belum lagi dengan kehidupan warga masyarakatnya.

Kedua
Sekarang mari kita bahas tentang warganya termasuk dengan segala tata kehidupan di dalamnya.
Andai saja virus Covid-19 ini sudah menyebar sampai ke pedesaan, dampaknya juga akan mengerikan. Kita anggap kebanyakan masyarakat di desa itu hidup mengandalkan penghasilan dari segi pertanian dan peternakan.
Ketika para petani dan peternak harus dikarantina, bagaimana dengan lahan pertanian dan hewan-hewan ternak mereka? Siapa yang akan mengolah lahan, menyirami sayur-sayuran dan memberi pupuk? Pastinya tanaman-tanaman itu akan mati lalu gagal panen.
Termasuk dengan hewan-hewan ternak yang juga akan mati karena tidak ada yang mengurusnya.
Para masyarakat di desa bakalan merugi secara fisik dan ekonomi.

Mengapa di atas tadi saya menulis tentang menjaga kesehatan finansial masyarakat di desa? Karena mereka bisa menopang kehidupan masyarakat di kota.
Para petani dan peternak harus tetap sehat agar ketahanan pangan kita tetap terjaga. 
Penting bagi kita supaya mereka tetap bisa berproduksi lalu panen sehingga mereka tetap mempunyai penghasilan. Dengan begitu, mereka bisa membantu saudara atau keluarganya yang ada di perantauan.
Biarlah kita di perantauan ini sekarat secara ekonomi dengan harapan keluarga di kampung bisa membantu kita. Tentu saja dengan syarat mereka tetap sehat.

Tentu saja kita tidak ingin pulang kampung dengan membawa oleh-oleh penyakit yang belum ada obatnya ini kan?

Tahan rindu kita, kita semua sama, sama-sama merindukan rumah. Sama-sama berkeinginan menikmati hari raya berkumpul bersama keluarga di kampung, bersilaturahmi kesana-kemari. Kita sama!
Namun, demi kesehatan dan keselamatan mereka, mari kita tahan rasa rindu ini. Percayalah, kelak akan ada saatnya kita bisa bebas pulang kampung.
Berdoalah kepada Tuhan, siapapun dan apapun itu Tuhan kita, supaya wabah ini cepat berakhir.

Let's fight together!!

Sunday, 19 April 2020

Tetap Bersyukur

Dampak ekonomi karena pandemik virus Corona ini benar-benar dirasakan oleh semua orang, termasuk saya sendiri.
Sebagai seorang yang bergerak di bidang perdagangan, saya benar-benar merasakan bagaimana sulitnya, pendapatan yang seret sedangkan tetap harus ada pengeluaran. Inilah saatnya untuk benar-benar mengasah otak menyiasati hal ini.

Saya akui bahwa awalnya ada sedikit rasa mengeluh, namun saya mencoba untuk mengikis rasa itu supaya tidak membesar. Apa ya mau terus-terusan mengeluh?

Ketika saya melihat kehidupan di luar sana, muncul rasa malu saya mengapa saya harus mengeluh? Bagaimanapun juga saya harus tetap bersyukur, karena di luar sana masih banyak orang yang keadaannya jauh lebih susah dibandingkan saya.

Okelah penjualan saya sangat seret, untuk bisa mendapatkan uang 50 ribu untuk sekarang ini bisa dibilanh agak susah. Namun di luar sana, banyak orang yang untuk mendapatkan nasi sepiring pun kesusahan. Astaghfirullah.

Alhamdulillah saya masih diberi kekuatan dari Allah berupa tenaga dan waktu sehingga saya bisa membantu para relawan mendistribusikan bantuan-bantuan dari para donatur. Setidaknya saya masih diberi kemampuan untuk membantu sesama manusia dan para tenaga medis di Rumah Sakit.

Alhamdulillah juga ada beberapa teman yang saya hutangi uangnya memberikan keringanan waktu dalam pengembaliannya. Padahal saya tahu bahwa sebenarnya mereka juga sedang dalam kondisi yang tidak jauh berbeda dengan saya secara finansial, namun karena sisi kemanusiaanlah yang membuat mereka berbuat seperti ini. Terima kasih kawan.
Urusan hutang tersebut sejujurnya membuat saya agak khawatir karena di dalam Islam dikatakan bahwa hutang itu akan dibawa mati. 
"Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari Kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Ibnu Majah no 2414).
Jujur saja tidak ikhlas saya kalau harus dibayar dengan kebaikan kelak karena amal kebaikan saya jelas-jelas masih kurang.
Hal tersebutlah yang membuat saya bertindak serupa, saya juga tidak akan menagih kepada orang-orang yang telah meminjam uang saya. Saya juga paham kondisi mereka dan juga ada sedikit ada rasa sungkan untuk menagih di saat seperti ini.

Okelah, untuk saat ini kondisi finansial saya porak-poranda, tapi saya harus tetap bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah saya terima, termasuk nikmat sehat ini. Dan ini yang akan saya jaga supaya kelak saya bisa memperbaiki segala kerusakan dalam finansial saya ini.
Alhamdulillah.

Jangan lupa untuk selalu bersyukur kawan-kawan semua, apapun keadaan kita.

Wednesday, 15 April 2020

Tetaplah Berbuat Baik.

Ada kalanya kebaikanmu akan disepelekan, tidak dihargai bahkan diabaikan oleh orang lain. Atau yang lebih parah lagi adalah kamu mendapatkan balasan yang buruk dari kebaikanmu. Namun jangan fokus pada apa balasan dari kebaikanmu, kamu harus tetap menjadi orang yang baik tak peduli mereka menganggapmu baik atau tidak.

Karena akan ada masanya semua kebaikanmu akan terbalaskan. Sekecil apa pun kebaikan yang kamu lakukan pasti akan dibalas dengan kebaikan juga.

Percayalah bahwa semua kebaikan yang kamu lakukan tidak akan pernah sia-sia. Semua kebaikan akan selalu tertulis, kebaikan sekecil apapun itu selamanya akan tetap menjadi kebaikan walau terkadang kebaikanmu diabaikan.

Abaikan mereka yang mengabaikanmu walau terkadang kau merasa kecewa terhadapnya.

Mau sebaik apa pun kamu, akan selalu ada orang yang tidak akan menyukaimu bahkan akan selalu ada orang yang tidak menghargai kebaikanmu.

Begitulah manusia, selalu ada saja yang salah dimatanya bahkan dengan kebaikan hati yang kamu lakukan saja masih terlihat salah dimata manusia.

Sudahlah hempaskan mereka yang mengabaikan kebaikanmu. Lupakan semua itu. Anggap saja kamu tidak mau terlibat bahkan tidak ada urusan dengan mereka yang selalu menganggapmu salah di matanya.

Yang harus tetap kamu lakukan adalah menjadi orang yang baik dan tetaplah berbuat baik meski ada sebagian orang yang hanya menyepelehkan kebaikanmu.

Kebaikan yang kamu lakukan selama jangan dihitung kebaikan agar tidak menginginkan balasan. Karena ketika kau menghitung kebaikan yang kamu lakukan kepada orang lain lalu orang tersebut tidak menghargaimu kamu akan merasa kecewa dan sakit hati.

Maka jangan pernah menghitung kebaikan yang kamu lakukan. Cukup menjadi orang yang baik dan jangan hiraukan mereka dan percayalah bahwa kelak akan ada masanya semua kebaikanmu terbalaskan.

Sudahlah tak perlu menghitung kebaikan apa saja yang pernah kamu lakukan terhadap orang lain. Biar Tuhan yang membalas semua kebaikanmu karena semua kebaikanmu akan selamanya menjadi kebaikan dan semua kebaikan itulah yang akan mendatangkan kebaikan padamu kelak.

Sejujurnya bagi saya lebih mudah untuk menuliskan atau menjabarkan ini, namun dalam pelaksanaannya tidak semudah itu.

Harapan saya, semoga kita semua tetap bisa berbuat baik kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja.



Sunday, 31 March 2019

Selamat Hari Lahir, Sahabat

Teruntuk sahabat terbaikku yang tepat hari ini sedang merayakan Hari Ulang Tahun dan Hari Lahirnya, maafkanlah aku yang tidak bisa memberikan sesuatu yang bagus dan indah sebagai kado di hari spesialmu ini.

Hanya untaian doa yang kupanjatkan kepada Sang Maha Mendengar, Sang Maha Besar dan Sang Maha Segalanya sebagai kado untukmu, dan semoga Dia mengabulkan doa-doa dari hamba-Nya yang hina dan bergelimang dosa ini.

Sahabat,
Semoga Allah memanjangkan usiamu, menyehatkan jasadmu, menerangi hatimu, menetapkan dan menguatkan iman dan taqwamu.

Sahabat,
Semoga Allah membaikkan dan menerima segala amalanmu, meluaskan rezekimu, mendekatkanmu pada kebaikan dan menjauhkanmu dari kejahatan.

Sahabatku,
Semoga Allah senantiasa membimbingmu agar engkau selalu berjalan di jalan-Nya, jalan yang Dia ridhoi dan berkahi serta tidak membiarkanmu tersesat.

Sobatku,
Semoga Allah menjauhkanmu dari segala macam gangguan ilmu sihir, ilmu hitan, iblis, setan bahkan manusia yang akan menyesatkanmu dan menjauhkanmu dari-Nya.

Sahabatku,
Semoga di usiamu yang baru ini, Allah menambahkan kedewasaan berpikirmu, dan menambah kebijakanmu dalam melangkah mengarungi kehidupan

Sahabatku,
Semoga Allah memberikan Hidayah, Inayah dan Kharomah kepadamu.

Sobatku,
Semoga Allah memberikanmu keselamatan dalam agama, dan kesejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rizqi, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati.

Sahabatku tercinta,
Semoga Allah mengabulkan segala kebutuhanmu dalam pada agama, dunia, dan akhirat.

Washallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa’alaa aalihi washah bihi wasallama. Subhaana rabbika rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuuna wasalaamun ‘alal mursaliina walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiina.

Aamiin ya rabbal alamin

Sunday, 5 November 2017

Tetap Bersyukur

*Based On True Story*

Malam itu, waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam dan entah kenapa tiba-tiba perut terasa lapar (lagi).
Setelah dengan pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk keluar cari makanan.
Dan tujuan saya adalah mencari nasi atau mie goreng karena biasanya di tengah malam begini yang ada hanya itu.

Setelah berjalan beberapa saat, saya menemukan sebuah warung nasi goreng di pinggir jalan yang sepi. Penjual yang lain yang sudah saya lewati rata-rata ada beberapa pembeli dan saya malah mengantri. Akhirnya saya memutuskan untuk mampir di warung itu.

Tampak dari kejauhan, suami istri penjual nasi goreng itu sedang bersenda-gurau sembari tertawa kecil.

Singkat cerita, saya memesan 1 porsi nasi goreng dan 1 porsi mie goreng untuk dimakan di rumah.
Sang Bapak sangat gesit melayani pesanan saya walaupun usianya sudah tidak bisa dibilang muda lagi.
Sayangnya sang Bapak tidak sempat saya foto.

Sembari menunggu pesanan saya jadi, saya memulai obrolan basa-basi dengan mereka.

"Gimana Pak, ramai ya Pak?", saya memulai obrolan.
"Alhamdulillah Mas." Sahut sang bapak sembari tersenyum.
"Alhamdulillah masnya pembeli pertama kami."

Gleeeeeek....pembeli pertama? Berarti dari tadi sepi tak ada yang beli?

"Emang bukanya jam berapa?".

"Buka dari seabis Maghrib Mas." Timpal si Ibu.

Masya Allah.. dari tadi sama sekali tidak ada pembeli yang datang tapi tak ada nampak wajah sedih atau murung di raut wajah mereka berdua.

"Namanya dagang ya gini Mas, kadang ramai sampai kewalahan, namun terkadang juga sepi banget." Ucap si Bapak sembari memainkan penggorengannya.

"Iya sih Pak, benar." Saya bingung mau jawab apa lagi.

"Mau bagaimanapun kondisinya, tetap  kami syukuri Mas." Timpal si Ibu.

"Kalaupun sepi, kami bersyukur karena kami sudah tidak terlalu lelah seperti waktu Bapaknya masih jualan keliling Mas. Alhamdulillah sekarang udah kuat sewa tempat ini, jadi Bapaknya tidak harus capek jalan keliling."

"Memangnya disini udah berapa lama Bu?".

"Sudah hampir 4 bulan ini Mas."
"Kalau dulu waktu Bapaknya masih keliling, saya tidak bisa bantuin Mas, kaki saya tidak kuat kalau jalan jauh, dikit-dikit kesemutan kaku. Kalau gini kan saya bisa bantuin Mas." Lanjut si Ibu.

"Dan Alhamdulillah ini gerobak dan kompornya sudah milik sendiri, kalau dulu saya sewa Mas." Timpal si Bapak.

"Jadi kalau misal jualan sepi, saya tidak bingung mikirin bayar sewa gerobak dan kompor. Belum lagi kalau pas kondisi hujan, saya sekarang sudah tidak perlu basah-basahan lagi Mas."

"Dan saya yakin Mas kalau rezeki itu sudah diatur oleh Allah dan tidak bakalan tertukar. Kita sebagai manusia berkewajiban untuk berusaha dan bertawakal serta jangan lupa untuk tetap bersyukur. Kalaupun sekarang sepi, saya yakin pasti Allah sedang menguji saya dan saya yakin juga Allah akan mengganti rezeki saya di lain hari."

Sedikit percakapan saya dengan suami istri penjual nasi goreng tersebut benar-benar serasa menampar saya secara telak.
Mereka tetap bisa ceria walaupun kondisi warungnya sepi. Mereka tetap bersyukur kepada Sang Penciptanya.
Sedangkan saya? Sepertinya saya lebih banyak mengeluhnya dibanding bersyukurnya.
Dan saya selalu merasa kurang, kurang dan kurang dengan apa yang saya dapat.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur,  niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat
(QS. Ibrahim : 7).

Saturday, 23 September 2017

Hidup itu Rezeki

Dulu saya pikir Sholat Dhuha dan membaca zikir pagi/surat al qur'an itu pembuka pintu rizki/rezeki dan dulu saya pikir, rizqi  berwujud uang, banyak order, banyak job, urusan kerjaan lancar, banyak tabungan, punya banyak aset disana-sini,
Intinya saat itu rejeki hanyalah Harta.

Setelah saya tahu apa makna rizqi/rezeki dalam Islam (sesuai yg tertera dalam Alquran dan hadits), ternyata saya salah besar.

Ternyata,
-Langkah kaki yg dimudahkan untuk hadir ke majelis ilmu, itu adalah rizqi.

- Langkah kaki yg dimudahkan untuk shalat berjamaah di masjid, adalah rizqi.

- Hati yg Allah jaga jauh dari iri, dengki, dan kebencian, adalah rizqi.

- Punya teman-teman yang sholeh/sholehah dan saling mengingatkan dalam kebaikan, itu juga rizqi.

- Saat keadaan sulit penuh keterbatasan, itu juga rizqi. Mungkin jika dalam keadaan sebaliknya, justru membuat kita kufur, sombong, bahkan lupa diri.

- Tubuh yang sehat, adalah rizqi. Bahkan saat diuji dengan sakit, itu juga bentuk lain dari rizqi karena sakit adalah penggugur dosa.

- Dan mungkin akan ada jutaan daftar lainnya bentuk2 rizqi yang kita tidak sadari.

Justru yang harus kita waspadai adalah ketika hidup kita berkecukupan, penuh dengan kemudahan dan kebahagiaan, padahal begitu banyak hak Allah yang belum atau tidak kita tunaikan...

Mari sebarkan kebaikan dan nikmati rizqi kita yg Allah tebarkan dimuka bumi dalam berbagai bentuk, syukuri karunia Nya.

Saling berbagi solusi
Saling berta'awun
Saling muhasabah mendekatkan diri pada sang pencipta.

Saturday, 26 August 2017

Virus Hedonisme yang Merekat pada Kehidupan Kita.

Hedonisme, sebuah kalimat yang sepertinya sudah tidak asing di telinga kita. Hedon, berasal dari kata latin yaitu hedone yang artinya kesenangan. Sedangkan Hedonisme menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti sebuah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai sebuah tujuan hidup.

Orang-orang yang memiliki pandangan ini menganggap bahwa tujuan hidup mereka adalah untuk bersenang-senang. Dalam hal ini, materi mempunyai peran penting untuk mewujudkannya.
Jargon lawas "Muda foya-foya, tua kaya-raya dan mati masuk surga" sepertinya menjadi sebuah pedoman orang-orang hedon.
Pada mulanya, tidak ada yang salah dengan hedonisme sebab nyaris semua manusia menargetkan kesenangan dalam hidup.
Yang jadi masalah adalah ketika seseorang sudah tidak peduli lagi bagaimana cara, sarana dan akibat dari proses pencarian itu.
Secara singkatnya, hedonisme bisa membuat manusia mengabaikan perihal haram/halal, baik/buruk dan salah/benar dikarenakan yang terpenting hanya satu, yaitu tercapainya kesenangan atau terengkuhnya kenikmatan.

Belakangan ini, hedonisme sudah tidak lagi menjadi sebuah pandangan hidup, melainkan sudah berubah menjadi sebuah gaya hidup bagi masyarakat urban.

Gaya hidup yang menonjolkan kemewahan, senang-senang, foya-foya dan menghambur-hamburkan uang.
Seiring dengan naiknya penghasilan/pendapatkan akan ikut naik juga gaya hidup kita.
Bahkan tidak jarang, orang rela lebih memilih untuk berhutang dibandingkan untuk menurunkan gaya hidupnya.

Sesungguhnya tidak larangan untuk memiliki gaya hidup hedon, namun sebaiknya gaya hidup tersebut kita hindari dikarenakan gaya hidup seperti itu dapat menimbulkan efek ekslusifitas yang mengakibatkan munculnya kesenjangan sosial.

Kasus First Travel disebabkan Hedonisme

Belakangan ini di media massa sedang marak-maraknya pemberitaan tentang gagalnya ribuan orang berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah Umroh. Kasus ini menjerat pasangan suami istri Andika Surachman dan Anniesa Devitasari Hasibuan yang menjabat sebagai pimpinan dari perusahaan penyedia jasa layanan Umroh PT First Anugrah Karya Wisata atau First Travel.
Total kerugian yang diderita oleh para calon jemaah mendekati 900 Milyar, sebuah jumlah yang fantastis.
Diberitakan bahwa pasangan suami istri tersebut telah menipu 58.682 orang dikarenakan mereka tidak lekas diberangkatkan ke Tanah Suci seperti yang telah dijanjikan.

Kemunculan dan tamatnya riwayat First Travel yang didirikan di tahun 2011 tersebut tidak memerlukan waktu yang panjang, hanya kurang dari 10 tahun saja.

Banyak yang beranggapan bahwa kehancuran perusahaan tersebut dikarenakan gaya hidup hedon yang dilakukan oleh sang pemilik, yaitu pasangan suami istri tersebut.

Andika dan Anniesa seakan-akan menyimpan dendam nasib lantaran sebelumnya mereka hidup dalam keadaan susah. Seperti yang telah diberitakan, mereka pernah menjadi penjaga sebuah minimarket, penjual pulsa, berdagang burger dan seprai.

Melalui akun sosial medianya, pasangan tersebut sering tampil dengan busana yang glamour, bahkan tak jarang juga mereka berpose di tempat-tempat wisata favorit di berbagai belahan dunia. Bahkan sering juga Andika dan Anniesa memamerkan kemegahan rumah mereka yang laksana sebuah istana.

Namun itu semua berubah di awal tahun 2017 di saat ribuan orang melakukan aksi protes keras. Ribuan calon jemaah menuntut hak mereka untuk diberangkatkan ke Tanah Suci setelah nasib mereka terkatung-katung tidak jelas. Mereka seharusnya sudah diberangkat pada akhir 2015.

Diduga, dana para calon jemaah tersebut digunakan untuk membeli aset-aset pribadi pasangan suami istri tersebut.

Beberapa aset pribadi dari pasangan tersebut telah disita oleh pihak kepolisian, seperti beberapa mobil mewah dan rumah mewahnya. Yang mengherankan adah dana yang ada di rekening perusahaan tersebut hanya tersisa kurang dari Rp 2 juta saja.

Kasus Andika dan Anniesa bisa jadi hanya satu contoh yang ada dari bahaya perangkap gaya hidup hedonisme yang mengancam masyarakat Indonesia.

Gaya hidup konsumtif tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup hedonisme yang dianut.
Di satu sisi, pola dan gaya hidup konsumtif memberikan kepuasan dan kenikmatan baik secara fisik maupun psikologi.
Namun disadari atau tidak, gaya hidup konsumtif justru memberikan dampak kurang baik bagi "kesehatan finansial".

Gaya hidup konsumtif dapat dikatakan sebagai pemborosan. Ketika kita masih memiliki daya beli, gaya hidup konsumtif memang mengasyikkan. Kita bisa membeli segala sesuatu bukan hanya yang kita butuhkan, namun termasuk yang kita inginkan.
Namun tanpa kita sadari, perilaku ini akan menjadi kebiasaan yang mengendap dan membentuk suatu karakter yang sulit untuk kita ubah bahkan untuk kita hilangkan.

Ketika kita telah menaikkan gaya hidup kita, maka akan sulit bagi kita untuk menurunkan gaya hidup.
Ini adalah suatu sifat manusia untuk mencari kesenangan dan menjauhi kesengsaraan.
Selain itu ada faktor malu, faktor kenyamanan yang akan menyiksa diri kita ketika sudah mempunyai penghasilan dan ingin memuaskan gaya hidup yang menyamar sebagai kebutuhan hidup kita.

Forum Indonesia berDiskusi untuk Edukasi (IDE) di Sidney, Australia beberapa waktu yang lalu tertarik untuk mengkaji fenomena berkembangnya kelas menengah di Indonesia.
Kelas ini mereka simpulkan sebagai pertanda masih adanya kesenjangan ekonomi dan sosial di masyarakat.
Kecenderungan orang-orang di kelas ini memiliki tingkat penghasilan yang cukup baik namun pola pikir yang dipakai oleh mereka masih membajak cara pandang kelas-kelas di bawahnya.

Dengan kata lain, secara ekonomi mereka sudah mulai membaik, namun dalam bersikap, terutama kepekaan sosial, masih sangat minim.

Soal nasib, mungkin Andika dan Anniesa masih berada di tingkatan ini mengingat rekam jejak keduanya yang sangat drastis dari segi ekonomi.

Yang cukup mengherankan adalah mengapa Andika dan Anniesa lebih memilih "bermain" dengan wilayah agama. Umroh bukan sebuah ibadah sepele yang bisa dimanfaatkan untuk meraup kekayaan.
Seharusnya, agama digunakan sebagai penangkal diri agar terhindar dari gaya hidup boros dan berfoya-foya. Terlebih lagi, hal itu memberikan dampak kerugian bagi banyak orang.

Suroso, dalam Psikologi Islam (2011) mengatakan salah satu penyebab meningkatnya gaya hidup hedonis adalah kemerosotan iman.
"Salah satu larangan agama adalah bersikap berlebih-lebihan atau bersikap boros," tulis dia.
Dengan mengutip teori Glock and Stark, Suroso juga menulis, iman juga akan mengantarkan manusia berbuat kebaikan. Tidak hanya untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.

Tidak hanya Andika dan Anniesa, sesungguhnya semua orang bisa terperangkap oleh hedonisme, termasuk kita, keluarga kita, saudara kita dan teman-teman baik kita.

Tips Supaya Terhindar dari Perangkap Hidup Hedonisme

1. Hidup Sederhana
Bahagia itu sederhana, begitu ungkapan yang dipelopori oleh Farid Stevi, seorang seniman asal Yogyakarta.
Kita perlu menanamkan dalam diri sendiri bahwa kesederhaan adalah kunci kebahagiaan. Tidak perlu bermewah-mewahan, tidak kekurangan sudah bisa menjadi sebuah modal untuk hidup tenang.
Hidup sederhana bisa menjauhkan kit dari ketamakan dan keserakahan.

2. Buat Skala Prioritas.
Hedonisme membuat kita menjadi konsumtif. Untuk menghindarinya, buatlah skala prioritas barang-barang yang kita butuhkan. Mulai dari tingkat urgensi yang tinggi hingga ke rendah. Ingat, apa yang kita butuhkan berbeda dengan apa yang kita inginkan.

3. Berhati-hati Dalam Memilih Teman.
Berteman boleh dengan siapa saja, namun tidak semua teman bisa memberikan pengaruh yang positif bagi kita, terkadang ada pula yang memberikan pengaruh negatif ke kita. Bagaimanapun juga, lingkungan pergaulan bisa mempengaruhi kepribadian dan gaya hidup kehidupan kita. Oleh karena itu kita harus bisa pintar-pintar melakukan filtrasi atas lingkungan pergaulan kita.

4. Menabung.
Bagi para penganut hedonisme, menabung merupakan sesuatu yang sangat susah untuk dilakukan, padahal menabung sangat penting untuk memenuhi kebutuhan hidup jangka panjang kita seperti untuk membiayai pendidikan anak, membayar DP rumah, persiapan dana pensiun dan kebutuhan-kebutuhan lain yang mendesak.
Menabung tidak harus dalam jumlah yang besar, bisa dimulai dari nominal yang kecil, apabila dilakukan secara terus-menerus tentu nilai tabungan kita akan semakin banyak.

5. Kurangi Jalan-jalan atau Cuci Mata di Pusat Perbelanjaan.
Jalan-jalan dan cuci mata di sebuah pusat perbelanjaan merupakan sebuah aktivitas yang mengasyikan. Bisa dikatakan itu merupakan sebuah refresing yang mudah. Namun akan berbahaya jika hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan karena berpotensi menimbulkan niat belanja yang tak terduga dan terencana. Kita sering mudah tertarik untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak ada dalam daftar kebutuhan kita. Di saat itulah terkadang keinginan mengalahkan kebutuhan.

6. Cermatilah Ketika Membeli Barang.
Membeli barang sebaiknya berdasarkan fungsi akan lebih bijak dibandingkan merek atau brand hanya untuk menunjang gengsi.

7. Beramal dan Bersedekah.
Cara ini memang berbau religi, namun ampuh untuk merubah perilaku konsumtif. Dengan beramal dan bersedekah, berarti kita telah berbagi dengan orang-orang yang secara ekonomi tidak seberuntung kita.
Banyak contok Milyader dunia yang mengalokasikan sedikit uang mereka untuk beramal, seperti Bill Gates yang memberikan 60% kekayaannya untuk yayasan Bill and Melinda Gates (yayasan dengan dana paling besar di dunia dan banyak membantu dunia kesehatan dan pendidikan).
8. Mendekatkan Diri Kepada Tuhan.
Setelah melakukan hal-hal yang telah disebut di atas, jangan lupa diiringi dengan peningkatan kadar keimanan kita kepada Tuhan supaya kita selalu bersyukur atas apa yang kita miliki dan tidak mudah iri dengan apa yang orang lain miliki.

Sebagai penutup, tidak ada salah jika kita berdoa semoga kita semua, termasuk keluarga, saudara dan teman baik kita, dihindarkan dari gaya hidup hedonisme.
Ingat, di alam kubur nanti, kita tidak akan ditanyai berapa pendapatan kita perbulannya. Dan semua harta benda kita tidak akan kita bawa mati.

Tuesday, 8 August 2017

Just for My Family

Tidaklah seorang Muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dari kesalahan-kesalahannya.
(HR. Bukhari)

Hadist di atas saya gunakan sebagai penyemangat untuk diri sendiri di saat bertubi-tubi "cobaan" datang.
Dimulai dari datangnya penyakit yang membuat saya benar-benar harus bertekuk lutut menghadapinya.
Ditambah beberapa masalah internal keluarga yang harus saya hadapi.
Mungkin inilah cobaan-cobaan yang harus dihadapi seorang Muslim yang telah menetapkan hati untuk "Hijrah".

Hadist di atas juga sebagai penyemangat untuk saya supaya saya bersabar. Sabar dalam menghadapi semua ini.

Tidaklah perlu saya memaparkan secara detail masalah-masalah yang saya hadapi ini, saya hanya akan memaparkan kulitnya saja supaya Anda yang membaca tulisan ini bisa mengambil hikmah tentang apa yang saya hadapi.

Kenapa saya tulis Just for My Family? Karena saya akan melakukan semua ini untuk keluarga saya.

Ketika badan saya yang dalam kondisi belum 100% fit, saya memaksakan diri untuk bekerja. That's why? Saya punya alasan tersendiri kenapa saya melakukan itu.
Dan saya harus sabar menghadapi orang yang tidak tahu tapi sok tahu dalam bekerja. Orang yang tanpa melakukan klarifikasi terlebih dahulu, tanpa tabayun langsung berbicara kesana-kemari menyampaikan opininya.
Saya ikhlas seakan-akan menjadi pesuruh-nya karena saya tahu di sana dia melakukan itu kepada keluarga saya.
Saya sabar dituduh ini-itu dan saya tetap diam.
Biarkan saya yang menanggung itu semua, asalkan kakak saya disana tidak menderita.
Saya tahu tapi hanya pura-pura tidak tahu dengan apa yang Anda lakukan disana.

Saya bersabar dan ikhlas karena saya melakukan itu semua demi keluarga walaupun kadar rasa hormat saya kepadanya berkurang.
Semoga rasa sabar ini tidak ada batasnya.

Saya akan berusaha keras "mengangkat" keluarga walaupun tangan ini harus "patah".
Saya akan tetap melindungi mereka dengan cara saya sendiri.

Bahkan andai saya sakit, selama badan ini belum ambruk, saya akan tetap bergerak demi mereka.

Janji saya di hadapan pusara ayah dan kakak saya, akan saya wujudkan.

Silakan Anda berbuat sesuka hati terhadap saya, silakan Anda berbicara ke orang-orang tentang saya semau Anda.
Tenang, saya akan berusaha untuk tetap diam dan tersenyum.
Tapi, jangan pernah sekali pun Anda usik keluarga saya!
Don't touch my family!!
Karena saya akan melakukan segalanya untuk membantu mereka dan untuk melindungi mereka.

Saya percaya Allah tidak akan diam saja.

Monday, 16 January 2017

Muslim yang Lucu (2)

Jarum jam dinding sudah menunjukkan di angka 2 tapi mata ini masih susah untuk dipejamkan. Jam 02.00 dan aku masih terjaga. Entah kenapa aku masih teringat tentang ucapan Badrun tadi sore menjelang Maghrib.
Badrun, seorang kawan sejak lama. Seorang yang hanya lulus Sekolah Dasar, tapi memiliki etos kerja yang melebihi seorang sarjana. Pekerja keras yang tangguh dan selalu melakukan pekerjaannya dengan kesungguhan dan keikhlasan.
Siapa sangka kalau dia punya pemikiran seperti itu? Benar-benar tidak bisa kuduga.

"Kang, ada yang gak kalah lucunya lagi nih. Kalau dilihat dari agamanya, dia seorang Muslim. Tapi.."
"Tapi opo tho Drun? Ngomong tuh diselesaikan, jangan sepotong-potong gitu tho?"
 "Iyo,iyo kusambung. Seorang Muslim yang katanya mempunyai Tuhan, tapi entah apa yang dia sembah. Mungkin dia menyembah Allah, tapi tanpa sadar dia juga menyembah kemegahan duniawi, seperti menyembah uang, harta, pangkat, gengsi dan lain-lain Kang."

Waah, berat nih omongan si Badrun.

"Trus lagi nih Kang, pada saat hari raya Idul Fitri ada beberapa umat Muslim yang merayakan dan menyelenggarakan Idul Fitri lebih secara kebudayaan daripada secara agama. Atau dengan kata lain, Idul Fitri masih bersifat kultural daripada religius."

Badrun terdiam sejenak mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena terlalu berapi-api ngomongnya.

"Kita lebih menekankan diri pada hura-hura, senang-senang materiel, baju baru, petasan dimana-mana, kemewahan dan konsumsi-konsumsi. Kita kurang menyelam ke dalam ruhani Idul Fitri. Ke dalam usaha keinsyafan baru, kesadaran baru dan kelahiran baru."

Jleeeeb!! Kalimat Badrun serasa menohok diriku. Memang aku seperti aku, memang.

"Ada Muslim yang percaya dengan kekuatan Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa, tapi kocaknya dia juga percaya dengan kekuatan-kekuatan yang lain, mengandalkan kekuatan-kekuatan itu bahkan sampai memuja serta mengagungkannya. Edan tho Kang?"

"Ada manusia yang percaya bahwa musibah atau cobaan itu dari Gusti Allah. Allah yang memberi. Namun, saat dia sudah berhasil mengatasi semua itu, dia lupa bahwa kekuatan yang dia miliki untuk mengatasi semua itu juga dari Allah."

Si Badrun terus aja nyerocos mulutnya.

"Di saat dia susah, di saat dia butuh, dia berdoa terus-menerus memohon kepada-Nya. Bahkan kadang-kadang doa yang diucapkannya sangat ekspresif, dipuitis-puitiskan. Tapi begitu keinginan dan hajatnya sudah dikabulkan-Nya, dia jadi lupa diri. Bahkan bersyukur kepada-Nya pun dia lupa. Atau dengan angkuhnya dia meng-klaim bahwa semua itu hasil jerih-payahnya dan hasil usahanya. Muslim macam apa itu?"

Sungguh, petang itu aku benar-benar menjadi pendengar setia omongan Badrun.

"Kang, semoga kita ini dijadikan-Nya Muslim yang benar-benar Muslim ya Kang?"

Aamiin.






Sunday, 15 January 2017

Jangan Seperti Aku

Jangan seperti aku,
Aku ini tahu sedikit tentang sangat sedikit hal,
Aku ini sok ilmiah,
Padahal sebenarnya aku tidak paham betul apa yang disebut ilmiah.

Jangan seperti aku,
Aku suka menggunakan kata ilmiah dan tidak ilmiah,
Aku suka merasa rasional,
Padahal aku tak tahu beda rasionalitas dengan rasionalisme.
Aku tidak mengerti mana batas antara konvensi ilmiah dan konvensi akademis,
Bahkan aku tidak bisa persis melihat jarak antara sebutan "akademis", "ilmiah", dan "intelektual".

Jangan seperti aku,
Yang sok-sokan gemar membaca,
Padahal kalau aku membaca koran,
Aku tak tahu bagaimana membedakan Tajuk Rencana, Features, Berita, Opini, Kolom, Artikel Ilmiah atau Cerpen dan Puisi.

Jangan seperti aku,
Yang gemar membelanjakan uang untuk hal-hal picisan,
Untuk keindahan-keindahan artifisial,
Namun ogah mengeluarkan biaya untuk kemuliaan, kebaikan atau keluhuran.

Jangan seperti aku,
Yang gemar berdoa dan beribadah,
Hanya saat ada butuhnya saja,
Padahal itu sebuah kewajiban.

Jangan seperti aku,
Yang hanya bisa mengobral janji,
Seperti seorang Caleg atau Cagub yang sedang berkampanye di kampung-kampung,
Namun tidak mampu untuk merealisasikan janji-janjinya.

Jangan seperti aku,
Yang ber-Tuhan namun lebih suka menyembah pada harta, uang, kehormatan, pangkat,
Yang Lebih takut lapar, miskin dan sengsara,
Dibandingkan takut dengan dosa.

Jangan seperti aku,
Yang sok-sokan mengamati tingkah laku orang lain,
Nang sok-sokan menilai orang lain,
Namun tidak pernah bercermin,
tidak pernah menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri.

Pokoknya jangan seperti aku!!

Saturday, 14 January 2017

Sayonara My Friend

sayonara my friend


Tuhanlah yang mempertemukan,
dan Tuhanlah yang memisahkan.

Ikhlas tidak ikhlas, rela tidak rela, yang pergi tetap akan pergi, begitu juga denganmu kawan. Setelah sekian lama kita bersama, aku harus merelakan kepergianmu dan itu terasa sangat berat bagiku.
Sekian lamanya engkau menemaniku, suka dan duka kita jalani bersama, tetapi pada akhirnya kita harus berpisah.

Aku tidak akan melupakan saat-saat bersamamu.
Saat pertama kali berjumpa denganmu di Simpang Lima, Semarang. Sebuah perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju semarang menggunakan sepeda motor dengan kondisi hujan dan aku sama sekali belum tidur di malam sebelumnya. Saat aku harus menunggumu berjam-jam hingga petang. Tak akan pernah kulupakan kenangan itu.
menanti kedatanganmu


Aku juga masih ingat saat kita berdua bermandikan abu vulkanik Gunung Merapi dan saat kita berjuang menyelamatkan diri dari semburan awan panas.
Aku juga tidak akan begitu saja melupakan saat beberapa orang tersenyum di depanmu, bahkan beberapa artis pun ikut tersenyum di hadapanmu. Sungguh luar biasa.
Banyak kenangan bersamamu, kawan. Dan itu tak akan bisa kulupakan begitu saja. Banyak tempat yang sudah kita singgahi bersama, bahkan sampai ke ujung timur Indonesia, yaitu Papua.
Masih ingatkah dirimu saat kita diremehkan di suatu lomba tapi malah akhirnya kita pulang membawa piagam dan uang sebagai tanda kalau kita menang? I'll always remeber that!

Usiamu memang sudah tidak muda lagi kawan, dengan segala keterbatasanmu, tapi engkau tetap berusaha sekuat tenagamu untuk memperoleh hasil yang bagus. Walaupun engkau pernah sakit, bahkan koma hingga 3 bulan, tapi kau tetap berusaha untuk bangkit lagi.

Maafkan aku kawan yang sudah melanggar janjiku. Janji untuk tidak melepasmu walau apapun itu kondisimu. Maaf...
Maafkan aku kawan yang harus mengorbankanmu hanya karena sebuah kesalahanku, sebuah ketidaktelitianku, dan sebuah keteledoranku.
Maafkan aku kawan, aku harus bertanggungjawab atas kesalahan yang sudah aku buat, itu demi sebuah kepercayaan dan demi sebuah hubungan persahabatan.
Maafkan aku kawan, ternyata pengorbananmu masih belum cukup untuk menebus kesalahanku itu.
Maafkan aku kawan.

Kawan, begitulah manusia, memang susah untuk dipahami. Demi pertemanan dan persahabatan sampai harus mengorbanan teman yang lain.

Terima kasih kawan karena engkau telah setia menemaniku, telah setia mengajariku dan telah memberiku hidup serta membuat hidupku jadi berarti.
Semoga engkau menemukan sosok yang tepat, sosok yang jauh lebih baik daripada aku.
Jangan khawatir kawan, andai kita memang berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali.

Yes it's time to say auf Wiedersehn
Sayonara and ciao my friend






Wednesday, 11 January 2017

Muslim yang Lucu

"Muslim macam apa ini?"
Ucap Badrun sedikit berteriak namun lumayan mengagetkanku.

"Kamu tuh kenapa tho Drun? Waras?"
"Alhamdulillah Wasyukurillah, aku masih waras. Aku masih sehat."
"Apa ya gara-gara aku teriak trus dicap gak waras gitu?"
Badrun malah balik bertanya kepadaku.

"Lha iya tho, perasaan tadi kita lagi ngobrol baik-baik, trus kamu ngeliatin hapemu, lalu diam sejenak trus kok tiba-tiba teriak kayak gitu?"

Memang aku dan Badrun sering menghabiskan sore sembari ngobrol ngalor-ngidul, terkadang ngobrolin politik, ngobrolin masalah ekonomi termasuk naiknya harga cabe, ngobrolin bunga desa sebelah, ngobrolin apa aja yang bisa dijadikan bahan obrolan.

"Jadi gini,"
Badrun berhenti sejenak karena sibuk menyalakan rokok yang ada di mulutnya yang kering.

"Aku melihat ada beberapa kaum Muslim yang lucu."
"Lho, lucu gimana tho Drun? Pelawak kah?"
"Ealaaah..bukan itu!"
"Ada teman nih, teman aku sendiri, dia muslim. Aku sering lihat dia Shalat. Trus dia bilang sendiri kalau dia itu sangat mengidolakan Nabi Besar kita Rasulullah SAW bahkan ingin mengikuti segala sunnah Rasul."
"Lha trus dimana lucunya Drun?"
"Hisssh, makanya jangan dipotong dulu omonganku!! Dengerin dulu!"

Aku terdiam sembari mengangguk tanda mengiyakan.

"Nah, selama hidupnya kan Rasulullah penuh dengan kesederhanaan kan? Jauh dari kata kemewahan duniawi, betul kan?"
Aku mengangguk lagi.
"Tapi dia hidupnya senang dengan kemewahan, dan mungkin merasa tersiksa kalau disuruh hidup sederhana."

"Itu temanmu kan Drun? Udah coba kamu ingatkan?"

"Lha ya sudah tho yo. Sesama Muslim kan aku mencoba mengingatkannya. Ee, malah katanya terserah dia, kan semua ini hasil jerih payah dia sendiri, hasil dia banting tulang, hasil dia kerja keras dan dia berhak untuk menikmati semua hasil kerja kerasnya itu."
"Kan lucu tho Kang? Ngakunya pengikut Rasulullah, Rasulullah saja hidupnya sederhana tapi dia malah suka dengan kemewahan dan malu untuk hidup sederhana. Kocak kan Kang? Hahahaha."

Badrun tertawa terpingkal-pingkal sendiri.

"Ada lagi nih Kang yang lucu."
"Ada teman yang selalu mengucap syukur Alhamdulillah saat kerja kerasnya membuahkan hasil, bahkan dia nulis Alhamdulillah juga di berbagai sosmednya sebagai tanda bersyukur. Aku rasa sih itu bagus. Namun apa yang dia lakukan setelah mengucap Hamdallah itu yang bikin lucu."

Badrun terdiam sebentar lalu melanjutkan perkataannya.
"Masak sehabis bersyukur, dia party ma teman-temannya, pesta, lalu minum alkohol? Kan lucu to Kang? Jangan nanya udah kuingetin apa belum karena pasti udah kuingetin."
"Dia malah ngotot melakukan pembenaran atas perbuatannya itu, katanya dia pantas merayakannya karena setelah semua duka, getir, kerja keras yang mungkin mempertaruhkan segalanya bahkan nyawanya akhirnya dia berhasil. Itung-itung syukuran katanya, kan lucu tho yo? Hahahahaha.."

Lagi-lagi Badrun tertawa terbahak-bahak, bahkan gelas kopi yang dipegangnya sampai nyaris terjatuh.

Aku benar-benar tidak menyangka, kawanku Badrun memiliki pemikiran seperti itu, padahal dia hanya lulusan sekolah dasar.
Dia jauh lebih peduli daripada aku.
Dia jauh lebih agamis daripada aku.















Monday, 9 January 2017

Renungan Sang Pecundang dan Pendosa

Lelaki bertampang kusam itu hanya duduk terdiam di pojokan ruangan,
ruangannya yang sempit,
layaknya seekor kecoak yang terjepit tak berdaya,
Dia hanya diam membatu,
sambil sesekali menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terawat.

"Pecundang",
begitulah dia menamai dirinya.

"Aku tak lebih dari seorang pecundang,
seorang yang tak bisa berbuat apa-apa,
atau lebih tepatnya seekor pecundang?"

"Aku selalu berkoar-koar siap membantu, tetapi,
saat aku dibutuhkan,
aku tak bisa berbuat banyak untuk membantu,
Apa itu bukan pecundang?"

"Aku telah mengecewakan orang-orang terdekatku,
bahkan, aku juga mengacaukan mimpi-mimpi indah mereka,
masih layakkah aku disebut bukan pecundang?"

"Aku selalu berteriak-teriak akan selalu ada untuk mereka,
namun, disaat mereka memerlukan kehadiranku,
aku malah menghilang,
Pecundang macam apa lagi diriku?"

"Aku akan selalu mendoakan kalian,
What? Doa?
Hahahaha...pasti aku sedang bercanda?
Jangankan memohon sesuatu kepada-Nya,
Dengan-Nya pun aku tidak akrab,
Dengan-Nya pun aku tidak dekat,
Bagaimana doaku bisa terkabul?
Tuhan pun pasti akan mentertawakanku,
Selain pecundang, aku juga pendosa besar."

"Memohon kepada Tuhan?
Bahkan terkadang aku sendiri bingung,
apa dan siapa yang kusembah.
Aku memang beragama,
setidaknya itu yang tertulis di secarik kertas identitasku,
tapi kenapa aku sering menyembah uang?
tapi kenapa aku sering menyembah harta?
Menyembah kekuasaan?
Menyembah kemuliaan hidup?
Menyembah derajat?
Itu semuakah Tuhanku?

Dia kembali larut dalam keheningan,
ada rasa penyesalan  yang menyesaki dadanya,
ada pemberontakan di dalam pikirannya,
tapi dia tak tahu harus berbuat apa.

"Sebenarnya aku bukan seorang penakut,
tapi entah kenapa tiba-tiba aku menjadi penakut seperti ini,
Aku takut kehilanganmu,
Aku takut menatap masa depanku,
Aku takut melangkah ke depan,
Aku takut dengan kesendirianku,
Aku takut sengsara,
Aku takut miskin,
Aku takut akan duka,
Aku takut....
Dasar pecundang!!"

Braaaakk
Tiba-tiba lelaki itu meninju tembok yang setia menemaninya.
Sang tembok pun retak dan berdarah.

"Hei, kau yang disana!!
Iya, kau!!
Jawab pertanyaanku!!
Masih pantaskah aku menemanimu?
Masih  layakkah aku mendampingimu?
Pikirkan dahulu baik-baik sebelum engkau menjawab!
Bukankah aku sama sekali tidak berguna?
Bukankah aku sama sekali tidak bisa membantu segala kesusahan?
Bukankah aku hanya bisa membuat masalah?
Bukankah aku bisanya hanya menyusahkan?
Bukankah aku malah membuat sial?"

"Seorang pecundang dan pendosa seperti aku,
sama sekali tidak layak bagi siapapun.
Sama sekali tidak pantas dijadikan kawan."

Dasar pecundang!!
Dasar Pendosa!!






Saturday, 7 January 2017

Orang Kecil dan Orang Besar

Sebuah kutipan dari seorang Cak Nun yang saya idolai yang berjudul Kebesaran Orang Kecil 
yang bisa kita jadikan pelajaran.

Kebanyakan orang kecil adalah orang besar. Mereka bukan hanya berhati tabah, bermental baja dan berperasaan terlalu sabar, tapi juga berkemampuan hidup yang luar biasa.
Mereka sanggup dan rela berjualan beberapa botol air untuk penghidupan primernya. Kita pasti juga sanggup berjualan seperti itu, tapi tidak rela.
Orang kecil mampu menjadi kenek angkutan, menjadi satpam, menjadi tukang parkir atau menjadi pembantu rumah tangga seumur hidup.
Sedangkan kita tidak mampu dan tak akan pernah bisa membuktikan bahwa kita sanggup menjadi kenek atau satpam atau pembantu rumah tangga seumur hidup.
Mereka ikhlas untuk tidak boleh terlalu memikirkan harapan dan masa depan. Sementara kita selalu memamerkan harapan dan masa depan yang kita pidatokan seakan-akan berlaku untuk mereka, padahal hanya berlaku untuk kita.
Mereka adalah orang-orang besar yang berjiwa besar. Mereka senantiasa siap menjalankan perintah kita dan menyesuaikan segala perilakunya dengan kehendak kita.
Kita inilah yang sebenarnya orang kecil. Kita hanya ikhlas kalau kita kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar. Kita hanya sanggup memerintah dan menggantungkan diri pada orang yang kita perintah.
Kita inilah sebenarnya orang kecil. Kita hanya ikhlas kalau kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar dan hanya sanggup memerintah.
Orang kecil seperti yang disebutkan dalam tulisan Cak Nun tersebut sebenarnya orang-orang yang pemberani. Mereka berani menjadi orang kecil.
Coba silakan tanyakan kepada hati nurani kita sendiri, beranikah kita semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah kita menjadi menjadi orang kecil? Kita tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi, tapi tidak takutkah kita untuk menjadi orang kecil? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada kita tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi orang kecil? Menjadi tukang bakso? Menjadi pedagang asongan? Menjadi Satpam? Menjadi Sopir? Menjadi Tukang Parkir?
Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding mereka semua? Karena pasti para orang kecil itu memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti kita semua.
Kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajatnya rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat… Masya Allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!




Sunday, 11 December 2016

Jangan Menyerah Kawan

I am with you my friend

Kawan, aku tahu keadaan ini sungguh berat bagimu,
sungguh menyiksamu,
tak perlu kau tutupi itu.
Aku paham dengan semua kondisimu itu,
aku paham bahwa mimpi-mimpimu itu mahal, sehingga memerlukan pengorbanan yang besar,
Pengorbanan waktu, harta, pikiran, hati, perasaan dan mungkin pengorbanan-pengorbanan yang lain yang aku tidak tahu,
tapi ingat pesanku, demi tercapainya sebuah cita-cita dan kesuksesan, jangan pernah takut untuk gagal.
Jangan pernah takut untuk jatuh.
Jangan pernah untuk hancur.

Kegagalan tidak akan sanggup meluluhlantahkan harapanmu, kawan.
Kau adalah seorang pemberani,
seorang prajurit kehidupan,
yang selalu bangkit dan kembali berjuang,
yang pantang menyerah walaupun berlumuran luka dan darah.

Kamu tak boleh menyerah karena sekali menyerah, kamu akan kalah,
selama hidupmu belum selesai, perjuanganmu belum usai.

Hidup memang selalu memberi pilihan : gagal atau sukses, diam atau bergerak, menyerah atau berjuang.
Teruslah bekerja, bergerak, bertarung dan sulut semangatmu.
Tidak ada usaha yang sia-sia, Kawan. Bahkan meskipun jika hari ini usaha kita gagal.

Ini bukan hanya tentang bagaimana kamu menggapai mimpimu, tetapi bagaimana bahagia dalam menggapainya.
Setelah lama mendapatkan hinaan, cacian, pengkhianatan, aku yakin bahwa pada akhirnya kesuksesanmu akan membungkam mereka.

Bahagia itu mewah,
Menang itu indah,
Namun bagi para petarung sejati, keindahan itu hanya ketika berada di tengah-tengah pertempuran.
Ingat, hidup ini adalah medan pertempuran. Kadang tenang, kadang bergejolak.

Memang selalu ada sisi buruk dari setiap keadaan,
Dan aku yakin kamu calon pemenang kehidupan,
sehingga kamu akan selalu melihat sisi baiknya.
Jalani hidupmu Kawan seolah-olah tidak ada satupun yang bisa mengganggu kedamaian jiwamu

Engkau, aku, mereka, kita, semua manusia pastilah diberi kesamaan.
Suka dan duka. Bahagia dan sedih. Berhasil dan gagal.
Semuanya pernah kita alami.
Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Tenang kawan, apapun kondisimu, aku tetap bersamamu.
Aku akan tetap di sampingmu saat kamu bersedih,
saat kamu berduka,
saat kamu jatuh,
saat kamu hancur.
Bahkan andai kamu hancur berkeping-keping,
akulah yang akan memunguti kepingan-kepinganmu dan menyusunnya kembali.


Teruslah berlari mengejar mimpimu,
Aku akan mengikutimu hingga garis finishmu.
Dan semoga kehadiranku bukan sebuah kesia-siaan bagimu.

Berlarilah, kejar mimpi-mimpimu dan cita-citamu,
raihlah kesuksesanmu,
jika engkau lelah, berhentilah sejenak,
tengoklah ke belakang,
masih ada aku di belakangmu.


Terima kasih kawan,
atas semua pelajaran yang telah engkau berikan kepadaku,
atas semua kepercayaanmu kepadaku,
atas semua perhatianmu ke aku,
atas semua kasih sayangmu,
atas perlindungan, penjagaan dan pengayomanmu,
Terima kasih kawan atas semuanya.

Kawan, maafkanlah aku,
atas semua kesalahanku,
atas semua ketidakmampuanku untuk membantu semua kesulitanmu,
atas semua kebodohanku.

Maafkan aku sobat yang belum bisa menepati semua janjiku,
Maafkan aku sobat yang tidak bisa melindungi dan menjagamu,
Maaf...


Don't give up my friend.
Jangan pernah menyerah dalam mengejar cita-citamu.
Semoga Tuhan senantiasa menempatkanmu dalam penjagaan-Nya dan perlindungan-Nya,
Aamiin.






Teruntuk seorang sahabat spesial
seorang kawan dekat









Tuesday, 2 August 2016

Sebuah Surat Permohonan Izin Kepada Tuhan

Kepada Yth : Tuhanku Sang Penguasa Alam Semesta
Di tempat.

Bersamaan dengan surat ini, hamba ingin memohon izin beberapa hal kepada-Mu wahai Tuhanku.
Tuhanku Yang Maha Besar, izinkahlah hamba-Mu ini untuk membantu dan menolong dia. 
Dia adalah salah satu hamba-Mu yang baik, yang selalu mengerti hamba, yang sering kali Engkau beri cobaan tapi tetap kuat dan bertahan. Dia yang sering disakiti oleh sesamanya tapi selalu ikhlas. Dia yang sering dikhianati tapi selalu tersenyum.

Wahai Tuhanku Yang Maha Melindungi, izinkahlah hamba untuk melindungi dan menjaganya dari segala macam marabahaya dan dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya serta ingin menyakitinya. Sudah cukup banyak dia disakiti dan didzalimi selama ini.

Wahai Tuhanku Yang Maha Suci, izinkanlah hamba-Mu ini untuk bisa mendampinginya meraih cita-cita dan keinginannya. Hamba ingin melihatnya sukses sehingga tidak ada seorang pun yang bisa merendahkannya dan meremehkannya lagi.

Wahai Tuhanku Yang Maha Agung, izinkanlah hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya dan membuatnya senang. Bagi hamba-Mu ini, keceriaannya serta kebahagiannya sangat berarti. Dan hamba tidak akan membiarkan airmata kesedihan menetes kembali di pipinya.

Wahai Tuhanku Yang Maha Hebat, izinkanlah hamba-Mu ini menghadang badai yang menerpanya dan menghalau segala rintangan yang menghadangnya. Hamba ingin dia bisa berjalan tegak menyongsong masa depannya.

Dan yang terakhir Tuhanku, hamba mohon berikanlah hamba-Mu ini keikhlasan, kerelaan dan keridhoan untuk melakukan semua itu.

Demikianlah surat permohonan izin yang hamba ajukan kepada-Mu Wahai Tuhanku Sang Maha Segalanya. Terima kasih atas perhatian-Mu Yaa Robb.



                                                                                                          Tertanda
Hamba-Mu yang hina dan penuh dosa



                                                                                                         Bedy


Tuesday, 1 March 2016

Menjadi Fans yang Bijak

Lama juga saya tidak membuka dan menulis disini, mungkin karena saya terlalu fokus di dunia nyata dan blog yang saya buka bukan yang ini tapi yang Bedy's Picture karena disitulah banyak terdapat portfolio saya sebagai tukang foto.
Mungkin ini blog sudah banyak sarang Laba-labanya, berlumut dan berkarat dikarenakan lama taktersentuh.
Ada satu hal yang menggerakkan saya untuk menulis disini, yaitu tulisan lawas dari seorang musisi Manji. Manji atau Anji seorang musisi yang pernah menjadi vokalis di band Drive ini menulis tentang kedekatan seorang fans dengan idolanya, artikelnya bisa Anda baca disini .
Rasanya tidak perlu saya jelaskan siapa itu Manji, karena Anda sendiri bisa mencari informasi tentangnya di internet dan pastinya informasinya itu tumpeh-tumpeh. 

Idola dan fansnya adalah sesuatu yang sulit untuk dipisahkan. Saya rasa wajar jika seseorang mengidolai orang lain baik itu musisi, aktor, aktris, olahragawan, negarawan, elite politik dan lain sebagainya dikarenakan kemampuan mereka itu membuat banyak orang berdecak kagum. Bahkan takjarang juga kita mengidolai teman kita sendiri, kakak kelas atau bahkan tetangga kita dikarenakan ada sesuatu yang hebat pada mereka yang tidak kita miliki.

Sama seperti saya, saya sendiri juga mengidolai beberapa tokoh termasuk diantaranya musisi, baik itu musisi lokal ataupun musisi interlokal eh maaf, internasional.  
Jadi keinget jaman wartel kalau interlokal hahahahaha...

Oke, pembahasan akan saya kerucutkan ke mengidolai Seniman, termasuk diantaranya musisi seperti Manji.
Saya mengidolakan beberapa seniman dikarenakan karya-karyanya yang membuat saya kagum dan saya anggap bagus. Untuk seorang musisi atau penyanyi, faktor lagu-lagunyalah yang membuat saya menjadi suka. Selain faktor-faktor itu, saya tidak peduli. Termasuk diantaranya tentang kehidupan pribadi mereka semua.

Saya ambil contoh seorang musisi bernama Ahmad Dhani. Saya fans berat DEWA 19 sejak saya SMP hingga sekarang dan kita tahu sendiri bahwa Ahmad Dhani adalah motor dari band besar itu (tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya kepada personil DEWA19 yang lain seperti Andra, Ari Lasso, Once, Wawan, Erwin dan Yuke).
Saya tidak peduli dengan ucapan-ucapan seorang Dhani di media yang kadang kontroversial ataupun polemik rumah tangganya. Karena bagi saya selama karyanya masih bagus ya saya akan tetap suka. Begitu pun dengan musisi lainnya.

Saya setuju dengan saran Manji supaya jangan terlalu dekat dengan idola kita, apalagi sampai masuk ke ranah kehidupan pribadinya.
Untuk apa sampai punya nomor telepon pribadi dari idola kita? Agar kita bisa menelponnya? Yang ada malah bisa-bisa kita jadi pengganggu dan bahkan bukan tidak mungkin kita kena marah.
Coba bayangkan andaikata kita mengirim pesan ke idola kita setiap pagi dengan mengucapkan "selamat pagi" ,apakah itu tidak mengganggu? Belum lagi kalau sang idola sedang berada di belahan bumi yang lain yang saat itu masih tengah malam. Bisa-bisa kita kena semprot karena dia pas lagi mau tidur. Mau? Bisa-bisa kita bakalan menganggap dia arogan, norak, galak dan lain-lain lalu membencinya. Padahal kita sendiri yang salah.

Saran saya, kalau mau dekat dengan idola kita, jangan tanggung-tanggung. Langsung saja Anda pindah rumah atau kos atau kontrakan yang dekat dengan si idola. Sukur-sukur bisa sebelahan. Resikonya Anda jadi jauh dari tempat kerja, tempat sekolah ataupun tempat kuliah.
Pertanyaannya lagi, andaikata Anda sudah pindah dekat dengan sang idola, apakah Anda bisa setiap hari atau setiap saat bertemu? Saya rasa tidak.
Pengalaman saya, rumah di belakang saya adalah rumah keluarga dari seorang musisi/penyanyi wanita yang pada tahun 2002 mengeluarkan album bertajuk "Awal yang Indah". Penasaran? Silakan cari sendiri informasinya hahahahaa...
Tapi apakah setiap hari saya bertemu dengannya? Tidak. Selama saya tinggal disitu, saya hanya 3 kali bertemu dengannya dan baru sekali ngobrol dengannya.
Kesimpulannya, tinggal dekat artis/musisi idola bukan jaminan bahwa kita akan bisa saling bertatap muka, berbincang-bincang bahkan ngerumpi. Ingat, mereka adalah golongan orang sibuk yang jam kerjanya sangat tidak teratur. Jangan samakan dengan pegawai kantoran yang bisa kita prediksi jam kerjanya.
Dan andaikata Anda ngefans hanya karena faktor ganteng atau cantiknya sang idola, bisa-bisa Anda batal ngefans. Kenapa? Karena Anda bakalan sering liat sang idola berpenampilan sangat berbeda dengan penampilannya waktu di televisi atau di media massa lainnya. Mungkin Anda bakalan melihat sang idola yang biasanya cantik dan penuh pesona hanya memakai daster sembari menenteng kantong plastik berisi belanjaan, bersandal jepit Swallow serta tanpa make up sama sekali. Dan akan timbul pertanyaan "kok beda ya wajahnya?","kok gitu sih?" atau "aaah..ternyata biasa aja tuh mukanya". Dan akhirnya Anda bakalan batal ngefans lagi hahahahaha...


Saran saya yang kedua untuk lebih dekat dengan idola adalah bergabung dengan managementnya atau bekerja kepadanya. Untuk bergabung dengan managementnya tentu saja Anda harus memiliki skill. Kalau merasa tidak mempunyai skill, tapi masih nekat ya cobalah untuk menjadi asisten rumah tangganya atau driver nya. Berdasarkan pengalaman dari seorang teman, bekerja di sebuah management artis itu penuh dengan tekanan, jam kerja juga tidak teratur. Itu semua pun ada resikonya yaitu Anda bisa kena marah sang idola jika kerjaan Anda kacau dan tidak beres. Dan akhirnya Anda dongkol, jengkel lalu membencinya. Batal ngefans dah akhirnya hahahahaha...

Saya termasuk manusia yang beruntung karena di Instagram bisa di follow oleh seorang Manji dan mendapatkan sebuah souvenir darinya karena saya memenangkan kontes foto yang diadakannya. Tapi sebenarnya saya sendiri sama sekali tidak mengharapkan di follow back oleh musisi-musisi idola saya, termasuk Manji. Bagi saya, cukup dengan mengikuti instagramnya saya bisa mengikuti juga agenda-agenda yang di share nya. Sebagai seorang tukang foto yang sering berburu photo stage, jadwal atau agenda yang dibagikan oleh musisi itu penting. Saya bisa tahu kapan dan musisi itu akan perform dan apakah saya bisa datang apa tidak. Itu saja.
Dan bagi saya, memantau melalui Instagram dan Twitter itu sudah lebih dari cukup.

Andaikata Anda ingin menjadi seorang fans yang fanatik, tidak harus masuk ke kehidupan pribadi sang idola. Dengan membeli karya-karyanya yang asli, bukan yang bajakan, itu sudah cukup. Saat konser, cukup datang dengan membeli tiket masuk, bukan dengan menerobos atau meloncat pagar untuk mencari gratisan. Dengan begitu, Anda bisa membuat dapur sang idola tetap mengebul, bisa menjadi rezeki untuk sang idola. Sama-sama diuntungkan, kita diuntungkan dengan hasil karyanya yang bisa kita nikmati, idola kita diuntungkan dengan penjualan karyanya. Apakah Anda mau idola Anda bangkrut sehingga tidak bisa berkarya lagi? Tidak kan? Ingat, logika tidak akan jalan tanpa logistik.

Fans yang bijak selalu mampu untuk MENJAGA DIRI dan TAHU DIRI di saat bertemu dengan idolanya. Meminta untuk berfoto bersama itu hal yang wajar, tapi tidak wajar andaikata memintanya dengan memaksa.
Saya pertama kali bertemu dan memotret Manji adalah pada saat pertunjukkan MAHACINTA RAHWANA-nya Mbah Sudjiwo Tedjo tahun 2013 (foto-fotonya bisa dilihat disini ). Di saat itu, saya sama sekali tidak menyapa Manji dikarenakan saya tahu diri. Saat itu Manji terlihat seperti sedang sibuk menghapal naskah skenario dan saya tidak ingin mengganggunya.

Jadilah fans yang bijak, hargai privacy idola. Mereka juga punya kehidupan pribadi. Mereka juga ingin seperti layaknya manusia biasa yang bebas kemana-mana tanpa harus dikerubutin.
Tetaplah support mereka dengan membeli karya-karyanya supaya mereka tetap bisa berkarya. Ingat, jangan membeli yang bajakan. Buatlah idola kita bangga.

Sekali lagi, jadilah fans yang BIJAK bukan fans yang NORAK.

Sebagai penutup, saya ,mengutip ucapan seorang Manji,
Jangan lupa untuk senyum hari ini :)












Thursday, 1 October 2015

Kebaikan dalam Rangka

Tulisan ini benar-benar saya comot dari tulisan seorang Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Nun.
Beliau adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami.  Selain itu, beliau juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.

Berikut adalah tulisan beliau yang saya comot utuh tanpa saya kurangi atau saya tambahi, sebagai bahan renungan untuk saya dan kita semua.

Sahabat saya dari luar kota pada suatu larut malam di Malioboro Yogya menjumpai seorang penjual gudeg yang tampak agak menggigil karena kedinginan.
Orang ini berjualan gudeg setiap malam sampai dinihari. Ia membayangkan dalam beberapa tahun paru-parunya akan basah, keseluruhan badannya akan sakit-sakitan, dan akan cepat tua.
Maka jaket yang ia pakai, langsung ia berikan kepada si penjual gudeg.
Yang sahabat saya tak sadari adalah bahwa penjual gudeg ini seorang gadis, perawan, yang wajahnya cukup manis. Maka esoknya tersebar berita dalam komunitas gudeg Yogya bahwa sahabat saya itu naksir si penjual gudeg, sehingga memberinya jaket dalam rangka melakukan pendekatan.
Si perawan ini sendiri beranggapan demikian sehingga ia merasa sahabat saya ini sedang menjanjikan sesuatu yang akan dikembangkannya lebih lanjut. Maka ketika kemudian sahabat saya tidak melakukan apa-apa lebih lanjut, si perawan merasa kecewa, sakit hati, sementara warga komunitas gudeg yang lain menganggap bahwa sahabat saya ini mempermainkan si perawan gudeg.
Mungkin ini contoh dari  “budaya dalam rangka” yang sudah  memasyarakat. Kalau seseorang memberi, menyumbang, melakukan kebaikan, dipahami sebagai upaya untuk menggapai sesuatu di luar kebaikan itu.
Kebaikan sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri.
 Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

Looped Slider

Total Pageviews

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Recent comments

About This Blog

Footer

Contact With Us

Name

Email *

Message *

Recent Comments

Popular Posts