Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts

Monday, 1 June 2020

Jangan Abaikan Kebaikan Orang Lain

Tulisan ini saya buat untuk saya tujukan kepada diri saya sendiri yang masih sering tanpa sadar mengabaikan atau bahkan melupakan kebaikan yang telah orang lain perbuat kepada diri saya.
Ada dua hal dalam hidup ini yang mesti kita ingat, yaitu Kebaikan orang lain kepada kita dan keburukan kita kepada orang lain.

Pertanyaannya adalah mengapa kita harus berbuat seperti itu?
Karena yang membahayakan diri kita itu bukanlah perbuatan orang lain, demikian pun yang memberikan kebaikan kepada kita bukanlah perbuatan orang lain juga. 
Perbuatan diri kita sendirilah yang akan memberikan kebaikan dan keburukan untuk diri kita sendiri.

Jadi, ada dua hal yang penting adalah mengingat kebaikan orang lain kepada kita dan mengingat keburukan kita kepada orang lain. 
Dengan mengingat segala keburukan yang sudah kita lakukan kepada orang lain akan membuat kita senantiasa menjadi manusia yang ingat dosa, ingat untuk bertobat dan meminta maaf kepada manusia lain. Selain itu juga memotivasi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Begitupun sebaliknya, dengan kita mengingat kebaikan orang lain kepada kita akan membuat kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan dan selalu ingat dengan terima kasih. Dan kita pun menjadi termotivasi untuk memberikan kebaikan kepada orang lain meskipun andai dia tidak pernah mengharapkan itu.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa tidak berterimakasih kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah."
(HR. Tirmidzi).
"Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak sanggup membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur."
(HR. Thabrani).

Jika kita merasa sering menjadi beban bagi orang lain, ataupun merepotkan orang lain, siapapun itu, entah itu tetangga, kawan, sahabat ataupun saudara kita, maka setidaknya kita punya inisiatif untuk membalas budi baiknya meskipun orang itu tidak mengharapkan balasan tersebut.

Jika dikaitkan dengan hadist di atas tadi, maka bisa disimpulkan bahwa berterimakasih kepada orang lain merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya, pertolongan-Nya dan rezeki-Nya kepada kita melalui perantara orang tersebut. 
Barang siapa yang terbiasa mengingkari kebaikan orang lain, maka sebenarnya dia mempunyai tabiat mengkufuri nikmat Allah SWT.

Inilah pentingnya supaya kita tidak mengabaikan atau melupakan kebaikan orang lain kepada kita dan senantiasa berterimakasih kepada mereka atas kebaikan yang mereka berikan.

Mengapa saya membuat judul seperti itu? Karena sering kali kita (terutama saya) abai dan lupa akan kebaikan seseorang hanya karena sebuah kesalahan. Sering kita (terutama saya) melupakan segala jasanya hanya karena sebuah pertengkaran dan rasa marah. Atau mungkin hanya karena sebuah ego.

Di dalam QS. Al-Baqarah ayat ke 237 disebutkan, " Memaafkan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Ayat tersebut turun berkaitan dengan perceraian. Digandengkan kata "memaafkan" dan "jangan lupa kebaikan" seakan-akan ingin menunjukkan bahwa sebesar apapun kesalahan seseorang, jangan pernah menghilangkan kebaikan yang pernah ia lakukan kepada kita. Kebaikan tetaplah kebaikan. Dan janganlah kita menjadi orang yang tak tahu balas budi.

Semoga kita (termasuk saya) tidak termasuk manusia yang mudah mengabaikan kebaikan orang lain.

Sunday, 15 January 2017

Jangan Seperti Aku

Jangan seperti aku,
Aku ini tahu sedikit tentang sangat sedikit hal,
Aku ini sok ilmiah,
Padahal sebenarnya aku tidak paham betul apa yang disebut ilmiah.

Jangan seperti aku,
Aku suka menggunakan kata ilmiah dan tidak ilmiah,
Aku suka merasa rasional,
Padahal aku tak tahu beda rasionalitas dengan rasionalisme.
Aku tidak mengerti mana batas antara konvensi ilmiah dan konvensi akademis,
Bahkan aku tidak bisa persis melihat jarak antara sebutan "akademis", "ilmiah", dan "intelektual".

Jangan seperti aku,
Yang sok-sokan gemar membaca,
Padahal kalau aku membaca koran,
Aku tak tahu bagaimana membedakan Tajuk Rencana, Features, Berita, Opini, Kolom, Artikel Ilmiah atau Cerpen dan Puisi.

Jangan seperti aku,
Yang gemar membelanjakan uang untuk hal-hal picisan,
Untuk keindahan-keindahan artifisial,
Namun ogah mengeluarkan biaya untuk kemuliaan, kebaikan atau keluhuran.

Jangan seperti aku,
Yang gemar berdoa dan beribadah,
Hanya saat ada butuhnya saja,
Padahal itu sebuah kewajiban.

Jangan seperti aku,
Yang hanya bisa mengobral janji,
Seperti seorang Caleg atau Cagub yang sedang berkampanye di kampung-kampung,
Namun tidak mampu untuk merealisasikan janji-janjinya.

Jangan seperti aku,
Yang ber-Tuhan namun lebih suka menyembah pada harta, uang, kehormatan, pangkat,
Yang Lebih takut lapar, miskin dan sengsara,
Dibandingkan takut dengan dosa.

Jangan seperti aku,
Yang sok-sokan mengamati tingkah laku orang lain,
Nang sok-sokan menilai orang lain,
Namun tidak pernah bercermin,
tidak pernah menyadari kekurangan dan kelemahan diri sendiri.

Pokoknya jangan seperti aku!!

Saturday, 14 January 2017

Sayonara My Friend

sayonara my friend


Tuhanlah yang mempertemukan,
dan Tuhanlah yang memisahkan.

Ikhlas tidak ikhlas, rela tidak rela, yang pergi tetap akan pergi, begitu juga denganmu kawan. Setelah sekian lama kita bersama, aku harus merelakan kepergianmu dan itu terasa sangat berat bagiku.
Sekian lamanya engkau menemaniku, suka dan duka kita jalani bersama, tetapi pada akhirnya kita harus berpisah.

Aku tidak akan melupakan saat-saat bersamamu.
Saat pertama kali berjumpa denganmu di Simpang Lima, Semarang. Sebuah perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju semarang menggunakan sepeda motor dengan kondisi hujan dan aku sama sekali belum tidur di malam sebelumnya. Saat aku harus menunggumu berjam-jam hingga petang. Tak akan pernah kulupakan kenangan itu.
menanti kedatanganmu


Aku juga masih ingat saat kita berdua bermandikan abu vulkanik Gunung Merapi dan saat kita berjuang menyelamatkan diri dari semburan awan panas.
Aku juga tidak akan begitu saja melupakan saat beberapa orang tersenyum di depanmu, bahkan beberapa artis pun ikut tersenyum di hadapanmu. Sungguh luar biasa.
Banyak kenangan bersamamu, kawan. Dan itu tak akan bisa kulupakan begitu saja. Banyak tempat yang sudah kita singgahi bersama, bahkan sampai ke ujung timur Indonesia, yaitu Papua.
Masih ingatkah dirimu saat kita diremehkan di suatu lomba tapi malah akhirnya kita pulang membawa piagam dan uang sebagai tanda kalau kita menang? I'll always remeber that!

Usiamu memang sudah tidak muda lagi kawan, dengan segala keterbatasanmu, tapi engkau tetap berusaha sekuat tenagamu untuk memperoleh hasil yang bagus. Walaupun engkau pernah sakit, bahkan koma hingga 3 bulan, tapi kau tetap berusaha untuk bangkit lagi.

Maafkan aku kawan yang sudah melanggar janjiku. Janji untuk tidak melepasmu walau apapun itu kondisimu. Maaf...
Maafkan aku kawan yang harus mengorbankanmu hanya karena sebuah kesalahanku, sebuah ketidaktelitianku, dan sebuah keteledoranku.
Maafkan aku kawan, aku harus bertanggungjawab atas kesalahan yang sudah aku buat, itu demi sebuah kepercayaan dan demi sebuah hubungan persahabatan.
Maafkan aku kawan, ternyata pengorbananmu masih belum cukup untuk menebus kesalahanku itu.
Maafkan aku kawan.

Kawan, begitulah manusia, memang susah untuk dipahami. Demi pertemanan dan persahabatan sampai harus mengorbanan teman yang lain.

Terima kasih kawan karena engkau telah setia menemaniku, telah setia mengajariku dan telah memberiku hidup serta membuat hidupku jadi berarti.
Semoga engkau menemukan sosok yang tepat, sosok yang jauh lebih baik daripada aku.
Jangan khawatir kawan, andai kita memang berjodoh, Tuhan pasti akan mempertemukan kita kembali.

Yes it's time to say auf Wiedersehn
Sayonara and ciao my friend






Wednesday, 11 January 2017

Muslim yang Lucu

"Muslim macam apa ini?"
Ucap Badrun sedikit berteriak namun lumayan mengagetkanku.

"Kamu tuh kenapa tho Drun? Waras?"
"Alhamdulillah Wasyukurillah, aku masih waras. Aku masih sehat."
"Apa ya gara-gara aku teriak trus dicap gak waras gitu?"
Badrun malah balik bertanya kepadaku.

"Lha iya tho, perasaan tadi kita lagi ngobrol baik-baik, trus kamu ngeliatin hapemu, lalu diam sejenak trus kok tiba-tiba teriak kayak gitu?"

Memang aku dan Badrun sering menghabiskan sore sembari ngobrol ngalor-ngidul, terkadang ngobrolin politik, ngobrolin masalah ekonomi termasuk naiknya harga cabe, ngobrolin bunga desa sebelah, ngobrolin apa aja yang bisa dijadikan bahan obrolan.

"Jadi gini,"
Badrun berhenti sejenak karena sibuk menyalakan rokok yang ada di mulutnya yang kering.

"Aku melihat ada beberapa kaum Muslim yang lucu."
"Lho, lucu gimana tho Drun? Pelawak kah?"
"Ealaaah..bukan itu!"
"Ada teman nih, teman aku sendiri, dia muslim. Aku sering lihat dia Shalat. Trus dia bilang sendiri kalau dia itu sangat mengidolakan Nabi Besar kita Rasulullah SAW bahkan ingin mengikuti segala sunnah Rasul."
"Lha trus dimana lucunya Drun?"
"Hisssh, makanya jangan dipotong dulu omonganku!! Dengerin dulu!"

Aku terdiam sembari mengangguk tanda mengiyakan.

"Nah, selama hidupnya kan Rasulullah penuh dengan kesederhanaan kan? Jauh dari kata kemewahan duniawi, betul kan?"
Aku mengangguk lagi.
"Tapi dia hidupnya senang dengan kemewahan, dan mungkin merasa tersiksa kalau disuruh hidup sederhana."

"Itu temanmu kan Drun? Udah coba kamu ingatkan?"

"Lha ya sudah tho yo. Sesama Muslim kan aku mencoba mengingatkannya. Ee, malah katanya terserah dia, kan semua ini hasil jerih payah dia sendiri, hasil dia banting tulang, hasil dia kerja keras dan dia berhak untuk menikmati semua hasil kerja kerasnya itu."
"Kan lucu tho Kang? Ngakunya pengikut Rasulullah, Rasulullah saja hidupnya sederhana tapi dia malah suka dengan kemewahan dan malu untuk hidup sederhana. Kocak kan Kang? Hahahaha."

Badrun tertawa terpingkal-pingkal sendiri.

"Ada lagi nih Kang yang lucu."
"Ada teman yang selalu mengucap syukur Alhamdulillah saat kerja kerasnya membuahkan hasil, bahkan dia nulis Alhamdulillah juga di berbagai sosmednya sebagai tanda bersyukur. Aku rasa sih itu bagus. Namun apa yang dia lakukan setelah mengucap Hamdallah itu yang bikin lucu."

Badrun terdiam sebentar lalu melanjutkan perkataannya.
"Masak sehabis bersyukur, dia party ma teman-temannya, pesta, lalu minum alkohol? Kan lucu to Kang? Jangan nanya udah kuingetin apa belum karena pasti udah kuingetin."
"Dia malah ngotot melakukan pembenaran atas perbuatannya itu, katanya dia pantas merayakannya karena setelah semua duka, getir, kerja keras yang mungkin mempertaruhkan segalanya bahkan nyawanya akhirnya dia berhasil. Itung-itung syukuran katanya, kan lucu tho yo? Hahahahaha.."

Lagi-lagi Badrun tertawa terbahak-bahak, bahkan gelas kopi yang dipegangnya sampai nyaris terjatuh.

Aku benar-benar tidak menyangka, kawanku Badrun memiliki pemikiran seperti itu, padahal dia hanya lulusan sekolah dasar.
Dia jauh lebih peduli daripada aku.
Dia jauh lebih agamis daripada aku.















Monday, 9 January 2017

Renungan Sang Pecundang dan Pendosa

Lelaki bertampang kusam itu hanya duduk terdiam di pojokan ruangan,
ruangannya yang sempit,
layaknya seekor kecoak yang terjepit tak berdaya,
Dia hanya diam membatu,
sambil sesekali menggaruk-garuk rambutnya yang tidak terawat.

"Pecundang",
begitulah dia menamai dirinya.

"Aku tak lebih dari seorang pecundang,
seorang yang tak bisa berbuat apa-apa,
atau lebih tepatnya seekor pecundang?"

"Aku selalu berkoar-koar siap membantu, tetapi,
saat aku dibutuhkan,
aku tak bisa berbuat banyak untuk membantu,
Apa itu bukan pecundang?"

"Aku telah mengecewakan orang-orang terdekatku,
bahkan, aku juga mengacaukan mimpi-mimpi indah mereka,
masih layakkah aku disebut bukan pecundang?"

"Aku selalu berteriak-teriak akan selalu ada untuk mereka,
namun, disaat mereka memerlukan kehadiranku,
aku malah menghilang,
Pecundang macam apa lagi diriku?"

"Aku akan selalu mendoakan kalian,
What? Doa?
Hahahaha...pasti aku sedang bercanda?
Jangankan memohon sesuatu kepada-Nya,
Dengan-Nya pun aku tidak akrab,
Dengan-Nya pun aku tidak dekat,
Bagaimana doaku bisa terkabul?
Tuhan pun pasti akan mentertawakanku,
Selain pecundang, aku juga pendosa besar."

"Memohon kepada Tuhan?
Bahkan terkadang aku sendiri bingung,
apa dan siapa yang kusembah.
Aku memang beragama,
setidaknya itu yang tertulis di secarik kertas identitasku,
tapi kenapa aku sering menyembah uang?
tapi kenapa aku sering menyembah harta?
Menyembah kekuasaan?
Menyembah kemuliaan hidup?
Menyembah derajat?
Itu semuakah Tuhanku?

Dia kembali larut dalam keheningan,
ada rasa penyesalan  yang menyesaki dadanya,
ada pemberontakan di dalam pikirannya,
tapi dia tak tahu harus berbuat apa.

"Sebenarnya aku bukan seorang penakut,
tapi entah kenapa tiba-tiba aku menjadi penakut seperti ini,
Aku takut kehilanganmu,
Aku takut menatap masa depanku,
Aku takut melangkah ke depan,
Aku takut dengan kesendirianku,
Aku takut sengsara,
Aku takut miskin,
Aku takut akan duka,
Aku takut....
Dasar pecundang!!"

Braaaakk
Tiba-tiba lelaki itu meninju tembok yang setia menemaninya.
Sang tembok pun retak dan berdarah.

"Hei, kau yang disana!!
Iya, kau!!
Jawab pertanyaanku!!
Masih pantaskah aku menemanimu?
Masih  layakkah aku mendampingimu?
Pikirkan dahulu baik-baik sebelum engkau menjawab!
Bukankah aku sama sekali tidak berguna?
Bukankah aku sama sekali tidak bisa membantu segala kesusahan?
Bukankah aku hanya bisa membuat masalah?
Bukankah aku bisanya hanya menyusahkan?
Bukankah aku malah membuat sial?"

"Seorang pecundang dan pendosa seperti aku,
sama sekali tidak layak bagi siapapun.
Sama sekali tidak pantas dijadikan kawan."

Dasar pecundang!!
Dasar Pendosa!!






Saturday, 7 January 2017

Orang Kecil dan Orang Besar

Sebuah kutipan dari seorang Cak Nun yang saya idolai yang berjudul Kebesaran Orang Kecil 
yang bisa kita jadikan pelajaran.

Kebanyakan orang kecil adalah orang besar. Mereka bukan hanya berhati tabah, bermental baja dan berperasaan terlalu sabar, tapi juga berkemampuan hidup yang luar biasa.
Mereka sanggup dan rela berjualan beberapa botol air untuk penghidupan primernya. Kita pasti juga sanggup berjualan seperti itu, tapi tidak rela.
Orang kecil mampu menjadi kenek angkutan, menjadi satpam, menjadi tukang parkir atau menjadi pembantu rumah tangga seumur hidup.
Sedangkan kita tidak mampu dan tak akan pernah bisa membuktikan bahwa kita sanggup menjadi kenek atau satpam atau pembantu rumah tangga seumur hidup.
Mereka ikhlas untuk tidak boleh terlalu memikirkan harapan dan masa depan. Sementara kita selalu memamerkan harapan dan masa depan yang kita pidatokan seakan-akan berlaku untuk mereka, padahal hanya berlaku untuk kita.
Mereka adalah orang-orang besar yang berjiwa besar. Mereka senantiasa siap menjalankan perintah kita dan menyesuaikan segala perilakunya dengan kehendak kita.
Kita inilah yang sebenarnya orang kecil. Kita hanya ikhlas kalau kita kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar. Kita hanya sanggup memerintah dan menggantungkan diri pada orang yang kita perintah.
Kita inilah sebenarnya orang kecil. Kita hanya ikhlas kalau kaya, sukses dan berkuasa. Kita hanya sanggup menjadi pembesar dan hanya sanggup memerintah.
Orang kecil seperti yang disebutkan dalam tulisan Cak Nun tersebut sebenarnya orang-orang yang pemberani. Mereka berani menjadi orang kecil.
Coba silakan tanyakan kepada hati nurani kita sendiri, beranikah kita semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah kita menjadi menjadi orang kecil? Kita tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi, tapi tidak takutkah kita untuk menjadi orang kecil? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada kita tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi orang kecil? Menjadi tukang bakso? Menjadi pedagang asongan? Menjadi Satpam? Menjadi Sopir? Menjadi Tukang Parkir?
Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding mereka semua? Karena pasti para orang kecil itu memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti kita semua.
Kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajatnya rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat… Masya Allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!




Tuesday, 2 August 2016

Sebuah Surat Permohonan Izin Kepada Tuhan

Kepada Yth : Tuhanku Sang Penguasa Alam Semesta
Di tempat.

Bersamaan dengan surat ini, hamba ingin memohon izin beberapa hal kepada-Mu wahai Tuhanku.
Tuhanku Yang Maha Besar, izinkahlah hamba-Mu ini untuk membantu dan menolong dia. 
Dia adalah salah satu hamba-Mu yang baik, yang selalu mengerti hamba, yang sering kali Engkau beri cobaan tapi tetap kuat dan bertahan. Dia yang sering disakiti oleh sesamanya tapi selalu ikhlas. Dia yang sering dikhianati tapi selalu tersenyum.

Wahai Tuhanku Yang Maha Melindungi, izinkahlah hamba untuk melindungi dan menjaganya dari segala macam marabahaya dan dari orang-orang yang berniat jahat kepadanya serta ingin menyakitinya. Sudah cukup banyak dia disakiti dan didzalimi selama ini.

Wahai Tuhanku Yang Maha Suci, izinkanlah hamba-Mu ini untuk bisa mendampinginya meraih cita-cita dan keinginannya. Hamba ingin melihatnya sukses sehingga tidak ada seorang pun yang bisa merendahkannya dan meremehkannya lagi.

Wahai Tuhanku Yang Maha Agung, izinkanlah hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya dan membuatnya senang. Bagi hamba-Mu ini, keceriaannya serta kebahagiannya sangat berarti. Dan hamba tidak akan membiarkan airmata kesedihan menetes kembali di pipinya.

Wahai Tuhanku Yang Maha Hebat, izinkanlah hamba-Mu ini menghadang badai yang menerpanya dan menghalau segala rintangan yang menghadangnya. Hamba ingin dia bisa berjalan tegak menyongsong masa depannya.

Dan yang terakhir Tuhanku, hamba mohon berikanlah hamba-Mu ini keikhlasan, kerelaan dan keridhoan untuk melakukan semua itu.

Demikianlah surat permohonan izin yang hamba ajukan kepada-Mu Wahai Tuhanku Sang Maha Segalanya. Terima kasih atas perhatian-Mu Yaa Robb.



                                                                                                          Tertanda
Hamba-Mu yang hina dan penuh dosa



                                                                                                         Bedy


Wednesday, 9 September 2015

Menghargai Sebuah Pengorbanan

"Pernah gak kamu menolak sebuah bantuan atau pemberian dari teman padahal hal itu sama sekali tidak merugikan atau bikin dosa?", Entah kenapa Bapak tiba-tiba bertanya kepadaku. Beliau masih menatap dengan pandangan mata yang teduh ke arahku sembari memainkan asap rokoknya.
Di sore yang mendung itu, kami nongkrong bareng di teras rumah. Terkadang memang kami duduk di teras sembari membicarakan hal-hal yang enteng.

"Pasti pernah kan?" Tanya Bapak lagi.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala perlahan.

"Nah, pernah gak kamu berpikir kalau penolakanmu itu bisa bikin temanmu sakit hati?"

Busyet daah..kayaknya belum pernah atau bahkan belum sempat aku berpikir sejauh itu.

"Yaa..gak mikir sampai kesana sih Pak."

"Lagian Pak, kalau orang itu ikhlas nawarin sesuatu ke kita andaikata kita tolak kan harusnya dia gak sakit hati?" Aku balik bertanya.

Bapak membetulkan posisi kopiah yang menutupi rambutnya yang sebagian sudah berwarna putih.
"Masalah tulus dan ikhlas itu kan urusan dia ama Tuhannya. Masalah dia dengan hatinya sendiri."

Bapak berhenti sejenak, lalu dia berdiri untuk mengambil beberapa daun kering yang ada di teras rumah kemudian membuangnya ke tempat sampah.

Duh, lupa belum kusapu nih teras.

"Itu bukan urusan kita." Lanjut Bapak sembari mematikan puntung rokoknya.
"Nah, urusan kita ini adalah bagaimana menjaga perasaan orang lain, terutama teman kita. Janganlah kita sampai menyakiti hati atau perasaan teman kita."

Aduuh..benar-benar bingung aku. Ini maksudnya apa sih? Tujuan pembicaraannya kemana sih? Duuh Pak..jangan buat pusing anakmu ini??!!

"Gini nih, Bapak jelasin." Sepertinya Bapak tahu kebingungan yang ada di dalam otakku yang kualitasnya tak seberapa ini.

"Kamu bisa tahu gak kalau orang itu ikhlas dan tulus? Gak bisa! Yang bisa kamu lakuin hanyalah menebak-nebak."
"Dan belum tentu tebakanmu itu jitu!" Sambung Bapak.

Saat ini aku benar-benar bingung.

Bapak kembali mengambil rokok lalu menyalakannya.
"Pas SD dulu pasti diajarin ama guru untuk menyayangi orang lain dan untuk tidak menyakitinya kan? Semua agama pun pasti akan mengajarkan kasih sayang seperti itu kan?"
"Kalau kita belum bisa berbuat baik untuk orang lain,setidaknya janganlah kita menyakiti orang lain. Hargai dan hormati orang lain, terutama teman."

Ingatanku kembali ke masa sekolah dulu, mencoba mengingat-ingat tentang pelajaran moral di jaman dulu.

"Iya Pak, kurasa semua agama juga pasti mengajarkan kebaikan seperti itu."

Kali ini Bapak berpindah posisi duduknya.

"Naah, itu dia. Balik ke masalah tadi."
 "Masalah teman kita itu tulus atau tidak, ikhlas atau tidaknya itu urusannya dia. Urusan kita adalah menjaga agar kita tidak menyakiti hatinya."

"Kamu bisa tahu gak mana amal perbuatanmu yang pasti diterima Allah? Mana amal ibadahmu yang pasti diterima-Nya? "

Busyet dah.. Pertanyaan macam apa ini?

"Ya gak tahu lah Pak." Jawabku singkat.

"Betul sekali, kita tidak akan bisa tahu itu."
Bapak mematikan rokok di asbak kayu hasil buatannya. Lalu dia melanjutkan lagi kalimatnya.
"Kita sebagai hamba Allah mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik mungkin. Masalah amal ibadah kita diterima atau tidaknya, itu hanya Allah yang tahu karena Dialah Yang Maha Tahu Segalanya. Menghormati dan menghargai sesama manusia juga termasuk ibadah. Dalam Islam, selain Habluminallah juga ada Hablumminannas kan?"

"Jangan pernah menyepelekan pemberian orang. Walau terlihat sederhana, walau tak seberapa, baik itu harga maupun jumlahnya, bukan tidak mungkin perjuangan dan pengorbanan besar harus dia lakukan demi itu."
Bapak kembali melanjutkan omongannya.
"Misalnya nih, ada orang yang sedang benar-benar gak punya uang, bahkan dia bingung belum makan sama sekali karena tidak punya uang. Terus ada temannya, misal si A yang memberikan uang Rp 10.000,00 ke dia. Selang beberapa saat, datang si B. Dia memberikan uang kepada orang itu sebesar Rp 50.000,00. Sekilas lebih banyak pemberian si B daripada si A kan?"
"Ada orang yang di dalam kondisi seperti itu berterima kasih dengan kedua temannya itu dengan kadar terima kasih yang sama, tapi ada juga yang berterima kasih dengan kadar yang berbeda. Mungkin karena si B memberikan uang yang jumlahnya lebih besar dari si A lalu dia lebih berterima kasih kepada si B."

Waaah..menarik nih kayaknya.

Bapak melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi orang tidak tahu berapa jumlah uang yang sebenarnya dimiliki oleh si A dan si B. Kalau uang si A ternyata hanya Rp 20.000,00 dan uang si B itu Rp 200.000,00 berarti lebih besar pengorbanan siapa? Si A kan?"

Wah..iya ya? Bener juga.

"Maka dari itu, sekecil apapun itu, kita harus menghargai pengorbanan orang lain." Lanjut Bapak.
"Itu tadi hanya contoh kecil, di kehidupan masih banyak contoh yang bisa ditemuin." Sambung Bapak.

Itulah sekilas obrolan saya dengan almarhum ayah saya di suatu sore.
Sebuah obrolan singkat dan ringan tapi bagi saya maknanya sangat dalam. Pemberian orang lain baik itu berupa tenaga ataupun barang pastilah terkandung pengorbanan di dalamnya.
Masalah keikhlasan dan ketulusan memang itu urusan orang itu sendiri dengan hatinya dan dengan Tuhannya.

Dan saya sendiri akan berusaha untuk tidak sakit hati jika pemberian saya ditolak oleh orang lain, sebuah pembelajaran tentang keikhlasan dan ketulusan untuk diri saya sendiri.

Artikel yang saya tulis ini bukan bermaksud untuk "menggurui" atau "sok pintar" dan lain sebagainya. Saya hanya ingin sekedar berbagi cerita. Saya sadar, derajat ilmu agama saya masih sangat rendah.

Semoga bermanfaat untuk semua.










Teruntuk almarhum Ayah saya :
Terima kasih atas semua bimbingan dan ajarannya. 
Tugasmu di dunia fana sudah selesai Pak, biarkan anakmu yang melanjutkan apa yang engkau perjuangkan.





Tuesday, 3 March 2015

Sahabat Sejati

Kita sebagai manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan ini,kita membutuhkan orang lain,kita tidak bisa hidup sendiri dan orang lain pun memerlukan kita. Oleh karena itu,kita harus berinteraksi dengan manusia-manusia yang lain.
Di saat kita berinteraksi dengan manusia yang lain, kita akan menemukan apa yang namanya teman, sahabat dan saudara, bahkan juga musuh.

Di jaman modern seperti saat ini, teknologi membuat kita bisa memiliki banyak teman. Kita bisa menambah pertemanan di sosial media seperti Facebook, Path, Twitter dan lain-lain. Bahkan kita bisa menambahkan melalui beberapa media chat seperti Blackberry messanger (BBM), Wechat, Line dan lain sebagainya. Dan kita juga bisa seenaknya menghapus pertemanan hanya dengan menghapus nama mereka dari daftar pertemanan kita. Itu semua hak kita, hak mutlak kita utk melakukan itu semua.

Namun pada kenyataannya, ada beberapa orang yang belum menemukan teman sejati walaupun dia mempunyai "teman" yang banyak. Anda mungkin setuju bahwa teman/sahabat sejati itu sangat penting. Menjadi seorang sahabat tidak cukup hanya dengak mengklik sebuah link di layar komputer atau smartphone anda. 

Teman adalah orang-orang yang selalu menemani kita dalam perjalanan hidup. Hitung saja, berapa jumlah teman yang kamu punya dari masa kecilmu? Banyak sekali, ‘kan? Tapi akuilah, tak semua dari mereka berada di tingkat pertemanan yang sama. Ada beberapa yang lebih dari teman biasa, para sahabat sejati yang selalu hadir dan menempati ruang spesial di daftar pertemanan Anda.



source : Dagelan


Tidak mudah untuk mendapatkan teman sejati, apalagi banyak orang yang hanya ingin berteman dengan kita karena alasan tertentu saja. Mungkin karena harta, popularitas, jabatan, fisik kita atau alasan yang lain. 

Saya coba paparkan beberapa ciri-ciri orang yang menjadi sabahat/teman sejati kita, yaitu:

1. Dia menjadi Pendengar yang Baik.
Teman sejati akan mendengarkan keluh-kesah kita tanpa mengeluh dan juga tanpa menghakimi kita. Bahkan terkadang, dia akan memberikan solusi dan saran. Teman sejati bahkan akan rela mengorbankan waktunya untuk mendengarkan curhatan anda, disaat anda membutuhkannya.

2. Teman Sejati Selalu Jujur.
Jika orang itu adalah teman/sahabat sejati Anda, dia akan selalu jujur kepada anda. Dia tidak akan pernah menusuk Anda dari belakang. Dia juga mungkin akan mengungkapkan apa saja kekurangan/kelemahan kita secara langsung dan tentu saja itu bertujuan untuk kebaikan kita sendiri supaya kita bisa instropeksi dan memperbaikinya.
source : Dagelan


3. Siap Membantu.
Ketika Anda membutuhkan pertolongan dan bantuannya, dia selalu siap untuk Anda. Bahkan disaat dia tidak sanggup atau tidak mampu, dia akan berusaha membantu atau bersama-sama kita mencari bantuan. Apapun caranya, bagaimanapun itu, dia tidak akan pernah meninggalkan Anda saat Anda membutuhkan uluran tangannya.
Dengan kata lain, seorang teman/sahabat sejati akan selalu ada untuk kita,baik di saat suka ataupun duka.

4. Tidak Bersaing/berkompetisi.
Persahabatan merupakan sebuah kerjasama yang terjalin karena sebuah rasa kesetiakawanan dan bukan sebuah kompetisi atau persaingan.
Di saat Anda sukses meraih mimpi Anda, teman sejati akan ikut merasa bahagia dan bangga, begitu juga sebaliknya. Dan mereka akan membuang jauh-jauh rasa iri dan dengki serta tidak akan berusaha untuk menurunkan rasa percaya diri Anda.

5. Memberikan Ruang dan Kebebasan.
Seorang sahabat sejati akan memberikan kebebasan penuh kepada anda dan mungkin bahkan tidak akan mencampuri urusan pribadi Anda kecuali jika diminta oleh Anda. Dia tahu dan paham bahwa ktia membutuhkan ruang untuk diri kita sendiri.
Selain itu, dia juga akan selalu menghargai pendapat Anda.
Dia akan memberikan Anda waktu untuk sendirian atau untuk menyelesaikan segala urusan Anda sendiri disaat Anda memang menginginkannya.

6. Ikut Merasa Apa yang Anda Rasakan.
Yang terpenting adalah teman sejati akan ikut merasakan apa yang Anda rasakan. Jika Anda senang, dia akan ikut senang. Dan jika Anda sedih,dia akan ikut merasa sedih.
Dia melakukan itu semua dengan segala ketulusan hatinya.

7. Konyol dan Lucu
Teman sejati mungkin akan bertingkah laku konyol, dan itu akan terlihat berbeda dengan teman biasa.
Hal itu disebabkan karena dia melakukan itu semua dengan tulus.
Sahabat yang konyol dan jenaka mungkin akan susah untuk kita lupakan begitu saja. Walaupun kita pernah dibuat jengkel karena kekonyolannya, tapi suatu saat kita akan merindukan itu kembali.

source : Dagelan




Pegang Pundakku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Mulai Lelah? Lelah Dan Tak Bersinar 
Remas Sayapku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Ingin Terbang? Terbang Meninggalkanmu  

 
Penggalan lirik lagu dari Sheila on 7 yang berjudul Sahabat Sejati ini membuat kita sadar apa itu teman dan sahabat sejati.

Ketika Anda sudah tahu dan paham bagaimana ciri-ciri orang yang menjadi sahabat sejati, sekarang giliran Anda untuk berbuat seperti itu kepada orang-orang yang Anda anggap sahabat sejati Anda.






Jagalah baik-baik sahabat/teman sejati kita, jangan sampai kita kehilangan mereka. Dan jangan juga Anda menghilang dari mereka karena selain keluarga, mereka lah orang-orang yang berperan penting dalam hidup kita.

source : Dagelan

Janganlah mencari kawan/teman hanya karena faktor harta, fisik, dan popularitas saja. Bertemanlah semua orang. Perluaslah pergaulan kita.
Memang benar kita perlu berhati-hati memilih kawan/teman. Namun itu tidak berarti kita hanya berteman dengan orang yang seumuran atau yang memiliki latar belakang tertentu saja.
Jika kita berteman dengan orang-orang dari segala aspek,baik itu usia, budaya dan kebangsaan, wawasan kita tentunya akan semakin luas.

Anda tidak perlu memakai "topeng" untuk mencari teman. Tunjukkanlah diri Anda apa adanya. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang kaya ataupun menjadi seseorang yang super karena teman sejati akan setia menemani kita karena segala kekurangan kita.

source : Dagelan






















Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua sahabat-sahabat baik saya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia menemani, membimbing, mencaci-maki, menghibur dan merangkul saya dengan segala kekurangan yang saya miliki.
Dan untuk teman yang telah "menghapus" saya dari daftar temannya, tenang...saya masih menganggap dirimu teman walaupun engkau sudah sama sekali tidak menganggap saya teman sama sekali.
Untuk sahabat-sahabat saya yang sudah dipanggil oleh-Nya, semoga kalian tenang disana dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. 
I'll always remember you!!

Looped Slider

Total Pageviews

Find Us On Facebook

Random Posts

Social Share

Flickr

Sponsor

Recent comments

About This Blog

Footer

Contact With Us

Name

Email *

Message *

Recent Comments

Popular Posts