Lama juga saya tidak membuka dan menulis disini, mungkin karena saya terlalu fokus di dunia nyata dan blog yang saya buka bukan yang ini tapi yang Bedy's Picture karena disitulah banyak terdapat portfolio saya sebagai tukang foto.
Mungkin ini blog sudah banyak sarang Laba-labanya, berlumut dan berkarat dikarenakan lama taktersentuh.
Ada satu hal yang menggerakkan saya untuk menulis disini, yaitu tulisan lawas dari seorang musisi Manji. Manji atau Anji seorang musisi yang pernah menjadi vokalis di band Drive ini menulis tentang kedekatan seorang fans dengan idolanya, artikelnya bisa Anda baca disini .
Rasanya tidak perlu saya jelaskan siapa itu Manji, karena Anda sendiri bisa mencari informasi tentangnya di internet dan pastinya informasinya itu tumpeh-tumpeh.
Idola dan fansnya adalah sesuatu yang sulit untuk dipisahkan. Saya rasa wajar jika seseorang mengidolai orang lain baik itu musisi, aktor, aktris, olahragawan, negarawan, elite politik dan lain sebagainya dikarenakan kemampuan mereka itu membuat banyak orang berdecak kagum. Bahkan takjarang juga kita mengidolai teman kita sendiri, kakak kelas atau bahkan tetangga kita dikarenakan ada sesuatu yang hebat pada mereka yang tidak kita miliki.
Sama seperti saya, saya sendiri juga mengidolai beberapa tokoh termasuk diantaranya musisi, baik itu musisi lokal ataupun musisi interlokal eh maaf, internasional.
Jadi keinget jaman wartel kalau interlokal hahahahaha...
Oke, pembahasan akan saya kerucutkan ke mengidolai Seniman, termasuk diantaranya musisi seperti Manji.
Saya mengidolakan beberapa seniman dikarenakan karya-karyanya yang membuat saya kagum dan saya anggap bagus. Untuk seorang musisi atau penyanyi, faktor lagu-lagunyalah yang membuat saya menjadi suka. Selain faktor-faktor itu, saya tidak peduli. Termasuk diantaranya tentang kehidupan pribadi mereka semua.
Saya ambil contoh seorang musisi bernama Ahmad Dhani. Saya fans berat DEWA 19 sejak saya SMP hingga sekarang dan kita tahu sendiri bahwa Ahmad Dhani adalah motor dari band besar itu (tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya kepada personil DEWA19 yang lain seperti Andra, Ari Lasso, Once, Wawan, Erwin dan Yuke).
Saya tidak peduli dengan ucapan-ucapan seorang Dhani di media yang kadang kontroversial ataupun polemik rumah tangganya. Karena bagi saya selama karyanya masih bagus ya saya akan tetap suka. Begitu pun dengan musisi lainnya.
Saya setuju dengan saran Manji supaya jangan terlalu dekat dengan idola kita, apalagi sampai masuk ke ranah kehidupan pribadinya.
Untuk apa sampai punya nomor telepon pribadi dari idola kita? Agar kita bisa menelponnya? Yang ada malah bisa-bisa kita jadi pengganggu dan bahkan bukan tidak mungkin kita kena marah.
Coba bayangkan andaikata kita mengirim pesan ke idola kita setiap pagi dengan mengucapkan "selamat pagi" ,apakah itu tidak mengganggu? Belum lagi kalau sang idola sedang berada di belahan bumi yang lain yang saat itu masih tengah malam. Bisa-bisa kita kena semprot karena dia pas lagi mau tidur. Mau? Bisa-bisa kita bakalan menganggap dia arogan, norak, galak dan lain-lain lalu membencinya. Padahal kita sendiri yang salah.
Saran saya, kalau mau dekat dengan idola kita, jangan tanggung-tanggung. Langsung saja Anda pindah rumah atau kos atau kontrakan yang dekat dengan si idola. Sukur-sukur bisa sebelahan. Resikonya Anda jadi jauh dari tempat kerja, tempat sekolah ataupun tempat kuliah.
Pertanyaannya lagi, andaikata Anda sudah pindah dekat dengan sang idola, apakah Anda bisa setiap hari atau setiap saat bertemu? Saya rasa tidak.
Pengalaman saya, rumah di belakang saya adalah rumah keluarga dari seorang musisi/penyanyi wanita yang pada tahun 2002 mengeluarkan album bertajuk "Awal yang Indah". Penasaran? Silakan cari sendiri informasinya hahahahaa...
Tapi apakah setiap hari saya bertemu dengannya? Tidak. Selama saya tinggal disitu, saya hanya 3 kali bertemu dengannya dan baru sekali ngobrol dengannya.
Kesimpulannya, tinggal dekat artis/musisi idola bukan jaminan bahwa kita akan bisa saling bertatap muka, berbincang-bincang bahkan ngerumpi. Ingat, mereka adalah golongan orang sibuk yang jam kerjanya sangat tidak teratur. Jangan samakan dengan pegawai kantoran yang bisa kita prediksi jam kerjanya.
Dan andaikata Anda ngefans hanya karena faktor ganteng atau cantiknya sang idola, bisa-bisa Anda batal ngefans. Kenapa? Karena Anda bakalan sering liat sang idola berpenampilan sangat berbeda dengan penampilannya waktu di televisi atau di media massa lainnya. Mungkin Anda bakalan melihat sang idola yang biasanya cantik dan penuh pesona hanya memakai daster sembari menenteng kantong plastik berisi belanjaan, bersandal jepit Swallow serta tanpa make up sama sekali. Dan akan timbul pertanyaan "kok beda ya wajahnya?","kok gitu sih?" atau "aaah..ternyata biasa aja tuh mukanya". Dan akhirnya Anda bakalan batal ngefans lagi hahahahaha...
Saran saya yang kedua untuk lebih dekat dengan idola adalah bergabung dengan managementnya atau bekerja kepadanya. Untuk bergabung dengan managementnya tentu saja Anda harus memiliki skill. Kalau merasa tidak mempunyai skill, tapi masih nekat ya cobalah untuk menjadi asisten rumah tangganya atau driver nya. Berdasarkan pengalaman dari seorang teman, bekerja di sebuah management
artis itu penuh dengan tekanan, jam kerja juga tidak teratur. Itu semua pun ada resikonya yaitu Anda bisa kena marah sang idola jika kerjaan Anda kacau dan tidak beres. Dan akhirnya Anda dongkol, jengkel lalu membencinya. Batal ngefans dah akhirnya hahahahaha...
Saya termasuk manusia yang beruntung karena di Instagram bisa di follow oleh seorang Manji dan mendapatkan sebuah souvenir darinya karena saya memenangkan kontes foto yang diadakannya. Tapi sebenarnya saya sendiri sama sekali tidak mengharapkan di follow back oleh musisi-musisi idola saya, termasuk Manji. Bagi saya, cukup dengan mengikuti instagramnya saya bisa mengikuti juga agenda-agenda yang di share nya. Sebagai seorang tukang foto yang sering berburu photo stage, jadwal atau agenda yang dibagikan oleh musisi itu penting. Saya bisa tahu kapan dan musisi itu akan perform dan apakah saya bisa datang apa tidak. Itu saja.
Dan bagi saya, memantau melalui Instagram dan Twitter itu sudah lebih dari cukup.
Andaikata Anda ingin menjadi seorang fans yang fanatik, tidak harus masuk ke kehidupan pribadi sang idola. Dengan membeli karya-karyanya yang asli, bukan yang bajakan, itu sudah cukup. Saat konser, cukup datang dengan membeli tiket masuk, bukan dengan menerobos atau meloncat pagar untuk mencari gratisan. Dengan begitu, Anda bisa membuat dapur sang idola tetap mengebul, bisa menjadi rezeki untuk sang idola. Sama-sama diuntungkan, kita diuntungkan dengan hasil karyanya yang bisa kita nikmati, idola kita diuntungkan dengan penjualan karyanya. Apakah Anda mau idola Anda bangkrut sehingga tidak bisa berkarya lagi? Tidak kan? Ingat, logika tidak akan jalan tanpa logistik.
Fans yang bijak selalu mampu untuk MENJAGA DIRI dan TAHU DIRI di saat bertemu dengan idolanya. Meminta untuk berfoto bersama itu hal yang wajar, tapi tidak wajar andaikata memintanya dengan memaksa.
Saya pertama kali bertemu dan memotret Manji adalah pada saat pertunjukkan MAHACINTA RAHWANA-nya Mbah Sudjiwo Tedjo tahun 2013 (foto-fotonya bisa dilihat disini ). Di saat itu, saya sama sekali tidak menyapa Manji dikarenakan saya tahu diri. Saat itu Manji terlihat seperti sedang sibuk menghapal naskah skenario dan saya tidak ingin mengganggunya.
Jadilah fans yang bijak, hargai privacy idola. Mereka juga punya kehidupan pribadi. Mereka juga ingin seperti layaknya manusia biasa yang bebas kemana-mana tanpa harus dikerubutin.
Tetaplah support mereka dengan membeli karya-karyanya supaya mereka tetap bisa berkarya. Ingat, jangan membeli yang bajakan. Buatlah idola kita bangga.
Sekali lagi, jadilah fans yang BIJAK bukan fans yang NORAK.
Sebagai penutup, saya ,mengutip ucapan seorang Manji,
Jangan lupa untuk senyum hari ini :)
Hanya sebuah cerita tentang diri saya sendiri yang sangat jauh dari kesempurnaan hidup
Tuesday, 1 March 2016
Thursday, 1 October 2015
Kebaikan dalam Rangka
Tulisan ini benar-benar saya comot dari tulisan seorang Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Nun.
Beliau adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
Berikut adalah tulisan beliau yang saya comot utuh tanpa saya kurangi atau saya tambahi, sebagai bahan renungan untuk saya dan kita semua.
Beliau adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
Berikut adalah tulisan beliau yang saya comot utuh tanpa saya kurangi atau saya tambahi, sebagai bahan renungan untuk saya dan kita semua.
Sahabat saya dari luar kota pada suatu larut malam di Malioboro Yogya menjumpai seorang penjual gudeg yang tampak agak menggigil karena kedinginan.Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.
Orang ini berjualan gudeg setiap malam sampai dinihari. Ia membayangkan dalam beberapa tahun paru-parunya akan basah, keseluruhan badannya akan sakit-sakitan, dan akan cepat tua.
Maka jaket yang ia pakai, langsung ia berikan kepada si penjual gudeg.
Yang sahabat saya tak sadari adalah bahwa penjual gudeg ini seorang gadis, perawan, yang wajahnya cukup manis. Maka esoknya tersebar berita dalam komunitas gudeg Yogya bahwa sahabat saya itu naksir si penjual gudeg, sehingga memberinya jaket dalam rangka melakukan pendekatan.
Si perawan ini sendiri beranggapan demikian sehingga ia merasa sahabat saya ini sedang menjanjikan sesuatu yang akan dikembangkannya lebih lanjut. Maka ketika kemudian sahabat saya tidak melakukan apa-apa lebih lanjut, si perawan merasa kecewa, sakit hati, sementara warga komunitas gudeg yang lain menganggap bahwa sahabat saya ini mempermainkan si perawan gudeg.
Mungkin ini contoh dari “budaya dalam rangka” yang sudah memasyarakat. Kalau seseorang memberi, menyumbang, melakukan kebaikan, dipahami sebagai upaya untuk menggapai sesuatu di luar kebaikan itu.
Kebaikan sukar berdiri sendiri dan murni sebagai kebaikan itu sendiri.
Thursday, 10 September 2015
Street Photography
Street Photography atau Forografer Jalanan adalah salah satu aliran dalam fotografi. Fotografi jalanan umumnya memuat objek yang diambil di ruang terbuka publik dalam kondisi candid atau tanpa pengarahan. Belum ada kesepakatan mengenai padanan yang baku untuk street photography dalam bahasa Indonesia, namun istilah fotografi jalanan sering dipakai dalam beberapa kesempatan. Foto-foto dalam street photography dapat mengambil lokasi dari berbagai ruang publik seperti jalan, pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, dan sebagainya.
Secara umum fotografi jalanan (street photography) adalah
kegiatan pemotretan yang berfokus pada kehidupan manusia di jalanan atau
ruang terbuka atau ruang publik, sehingga hasilnya adalah cerminan dari
masyarakat.
Tak ada yang direkayasa atau disiapkan sebelumnya. Fotografer merekam kenyataan seperti apa adanya pada suatu saat, jadi bersifat spontan dan berdasarkan insting fotografer.
Tak ada yang direkayasa atau disiapkan sebelumnya. Fotografer merekam kenyataan seperti apa adanya pada suatu saat, jadi bersifat spontan dan berdasarkan insting fotografer.
Foto menggambarkan kondisi apa adanya dengan meminimalkan manipulasi
objek. Dalam perkembangannya, fotografi jalanan banyak memasukkan
unsur-unsur seperti surealisme, humor, dan kejutan dalam komposisinya.
Untuk mendapatkan unsur-unsur tersebut dalam suatu foto, perlu dicari
saat yang paling tepat dengan posisi objek yang unik.
Ada beberapa kriteria Street Photography, yaitu :
- Foto di ruang publik (tempat umum)
- Kejadian/keadaan berupa spontanitas, tidak dibuat-buat. Tetapi bisa juga sebuah keadaan yang diharapkan atau moment-moment yang kebetulan yang disebut desicive moment .
- Tema yang dibahas merupakan kehidupan sehari-hari yang terjadi di ruang publik.
- Membuat rangkaian cerita dari aktifitas sehari-hari atau membuat suatu foto dengan memanfaatkan kehidupan sehari-hari.
- Orang/manusia yang dipotret tidak ditampilkan secara individu tetapi ditampilkan secara anonim sebagai sebuah tokoh dari situasi jalanan tersebut.
Aliran fotografi ini berawal dari Eropa, saat Eugene Atget
mulai mengabadikan suasana jalanan kota Paris sekitar tahun 1890-an
hingga 1920-an. Foto-foto Atget banyak mengambil objek arsitektural, dan
hanya sedikit sekali mengambil manusia sebagai subjek foto. Hal ini
berbeda sekali dengan fotografi jalanan kontemporer yang dikenal
sekarang, yang hampir selalu menyertakan manusia sebagai subjek fotonya.
Henri Cartier-Bresson mulai memasukkan unsur manusia dan komposisi
surealismenya dalam foto-fotonya yang diambil sejak awal tahun 1940-an,
hingga akhirnya aliran inilah yang makin berkembang hingga bentuk
fotografi jalanan yang populer hingga sekarang.
Di Indonesia, aliran fotografi ini masih tergolong muda dibandingkan
aliran lainnya. Fotografi jalanan baru mulai berkembang di Indonesia
pada sekitar tahun 1990-an, dan makin populer pada dekade pertama tahun
2000-an seiring berkembangnya teknologi fotografi digital.
Ada sejumlah saran untuk menjadi Street Photographer atau Fotografer Jalanan yang baik. Berikut ini beberapa di antaranya,
- Mata. Punya mata yang jeli melihat objek dan momen yang menarik. Ini bisa dicapai dengan banyak latihan memotret.
- Kamera. Sebaiknya kamera yang kecil, ringan, mudah dibawa, dan cepat dioperasikan. Kita tidak inginkan kehilangan sebuah moment yang unik atau istimewa hanya karena kita sibuk melakukan setting di kamera?
- Hak memotret. Sudah banyak cerita dari para fotografer tentang pengalaman mereka menghadapi polisi atau orang yang punya otoritas keamanan di sebuah lokasi, tapi tak mengerti soal hukum, memaksa fotografer menghapus foto atau merampas kameranya. Bahkan, kadang mereka bersikap kasar hingga memukulnya. Ingat, tidak semua tempat itu bebas untuk memotret, alangkah baiknya kita bertanya atau meminta izin terlebih dahulu sebelum memotret.
- Gunakan akal sehat. Kalau Anda tak tahu aturan di daerah tersebut, pertimbangkanlah untuk minta izin saja.
- Pemotretan yang aman. Kalau Anda masih ragu aman tidaknya memotret, maka pertimbangkan ini: memotret di sebuah acara yang terbuka untuk umum, tempat yang dipenuhi orang dan fotografer, tidak memotret wajah orang, memotret orang dari belakang/punggung, dan memotret dari jarak jauh (dengan lensa tele).
- Foto hitam-putih adalah jenis yang populer, tapi beberapa fotografer juga dapat menghasilkan foto berwarna yang menarik. Anda bisa pilih mana saja, tapi ada baiknya mencoba keduanya. Kembali ke selera Anda.
- Mode otomatis. Jangan ragu ataupun malu menggunakan mode otomatis pada kamera Anda. Itu mempermudah dan mempercepat pemotretan. Bukan pengaturan kamera yang membuat Anda jadi fotografer yang baik, tapi hasil foto Anda.
- Kamera digital. Sekarang sudah banyak tersedia kamera digital dalam beragam jenis dan harga. Salah satu kelebihan kamera ini adalah Anda dapat langsung melihat hasil dari pemotretan, sehingga bisa langsung mencoba memotret lagi.
- Tampil beda. Sudut pandang pemotretan penting agar foto Anda tidak membosankan. Cobalah berbagai perspektif lain dalam memotret. Anda bisa memotret dari sudut tinggi seperti burung atau rendah seperti katak. Jangan selalu terpaku dengan hasil foto orang lain, walaupun itu forografer favorit Anda.
- Posisi cahaya. Perhatikan arah datangnya cahaya. Tips umumnya adalah jika Anda ingin memotret wajah (foto potret), cahaya berada di belakang Anda. Jika Anda ingin memotret bentuk (siluet), cahaya berada di depan Anda.
- Foto seri. Anda perlu mendapat foto pada momen yang tepat, tapi kadang kita tak tahu mana yang momen yang tepat itu. Cobalah membuat foto seri atau memotret secara beruntun dan memilihnya nanti. Hal ini tidak sulit sekarang karena sudah ada kamera digital: Anda tinggal pilih foto terbaik di komputer dan menghapus yang tak perlu.
- Lupakan Editing. Banyak fotografer yang mengandalkan editing dengan program Photoshop atau program penyunting gambar lain untuk menyunting fotonya. Fotografi jalanan tidak bertumpu pada pemrosesan ini, yang berbeda dari foto fashion misalnya. Bahkan, beberapa fotografer jalanan melarang penyuntingan atas hasil fotonya.
- Perhatikan keadaan sekitar. Hal-hal yang sering kita lewati atau kita lakukan berulang-ulang akan menjadi menarik kita kita mencoba melihatnya dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
- Interaksi sosial dengan lingkungan sekitar dan perhatikan privacy orang. Ingat, beda tempat terkadang beda juga aturannya.
- Bersabarlah menunggu moment. Moment yang unik dan istimewa terkadang tidak datang begitu saja. Disitulah kesabaran kita akan diuji untuk menunggunya. Street photography berbeda dengan aliran fotografi yang lainnya karena tidak bisa direncanakan sesuai keinginan kita. Hal itu dikarenakan obyeknya adalah orang-orang yang ada di jalanan yang tidak kita kenal, tentunya sulit bagi kita untuk bisa memerintah mereka untuk berpose. Jika kita ingin mendapatkan cerita yang diinginkan maka kita harus menunggu, dan kesabaran tentu menjadi sangat penting. Menunggu dan sabar.
- Teruslah berjalan. Selain menunggu ada cara lain yaitu dengan terus berjalan keseluruh sudut wilayah tempat hunting. Simpel kan ? Duduk saja diam yang mungkin membosankan atau berjalan yang tentu melelahkan. Terserah pilihan Anda.
- Perhatikanlah elemen jalanan di sekitar kita, misalnya papan iklan, jembatan penyeberangan, bayangan orang, genangan air, arsitektur bangunan dan lain-lain.
- Jangan takut untuk bereksperimen.
- Komposisi. Sebuah komposisi foto yang bagus akan menambah kekuatan foto itu.
- Berpakaian yang sesuai. Menjadi seorang street photographer berarti membaur dengan keramaian. Jika Anda keluar rumah dengan baju yang mencolok, jangan harap orang tidak akan memperhatikan Anda saat memotret.
- Matikan flash dan atur setting kamera sebelum keluar rumah. Tidak ada yang lebih menarik perhatian daripada flash yang menyilaukan, bahkan di siang hari.
Beberapa hal yang harus kita hindari di saat menjadi seorang Street Photographer adalah :
- Jangan gunakan kamera yang berisik atau yang efek suaranya tidak bisa dimatikan. Sebaiknya Anda tidak menarik perhatian saat memotret.
- Jangan tampil seperti seorang fotografer. Idealnya, Anda akan tampil seperti pejalan kaki pada umumnya.
- Jangan mengikuti orang atau bertingkah seperti orang aneh. Meskipun Anda lihai dalam hal ini, tapi tidak ada orang yang suka diikuti. Bahkan tidak mungkin Anda akan mendapatkan masalah.
- Jangan terlalu mendekat pada orang kemudian memotret tepat di depan wajahnya. Bukan hanya orang tersebut akan tersinggung, tapi juga foto yang Anda hasilkan akan kehilangan kesan candid yang diperlukan.
Berikut ini adalah beberapa contoh street photography yang saya buat
Untuk lebih lengkapnya, silakan kunjungi https://bedypicture.wordpress.com/
Referensi :
1. https://id.wikipedia.org/wiki/Fotografi_jalanan
2. http://gaya.tempo.co/read/news/2014/05/25/108580226/apa-itu-fotografi-jalanan
3. http://tipsfotografi.net/belajar-fotografi-memotret-jalanan-atau-street-photography.html
4. http://rumorkamera.com/catatan-kami/catatan-mengenai-fotografi-jalanan-street-fotografi/
5. http://fotonela.com/1248/bagaimana-cara-memulai-street-photography/
Wednesday, 9 September 2015
Menghargai Sebuah Pengorbanan
"Pernah gak kamu menolak sebuah bantuan atau pemberian dari teman padahal hal itu sama sekali tidak merugikan atau bikin dosa?", Entah kenapa Bapak tiba-tiba bertanya kepadaku. Beliau masih menatap dengan pandangan mata yang teduh ke arahku sembari memainkan asap rokoknya.
Di sore yang mendung itu, kami nongkrong bareng di teras rumah. Terkadang memang kami duduk di teras sembari membicarakan hal-hal yang enteng.
"Pasti pernah kan?" Tanya Bapak lagi.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala perlahan.
"Nah, pernah gak kamu berpikir kalau penolakanmu itu bisa bikin temanmu sakit hati?"
Busyet daah..kayaknya belum pernah atau bahkan belum sempat aku berpikir sejauh itu.
"Yaa..gak mikir sampai kesana sih Pak."
"Lagian Pak, kalau orang itu ikhlas nawarin sesuatu ke kita andaikata kita tolak kan harusnya dia gak sakit hati?" Aku balik bertanya.
Bapak membetulkan posisi kopiah yang menutupi rambutnya yang sebagian sudah berwarna putih.
"Masalah tulus dan ikhlas itu kan urusan dia ama Tuhannya. Masalah dia dengan hatinya sendiri."
Bapak berhenti sejenak, lalu dia berdiri untuk mengambil beberapa daun kering yang ada di teras rumah kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Duh, lupa belum kusapu nih teras.
"Itu bukan urusan kita." Lanjut Bapak sembari mematikan puntung rokoknya.
"Nah, urusan kita ini adalah bagaimana menjaga perasaan orang lain, terutama teman kita. Janganlah kita sampai menyakiti hati atau perasaan teman kita."
Aduuh..benar-benar bingung aku. Ini maksudnya apa sih? Tujuan pembicaraannya kemana sih? Duuh Pak..jangan buat pusing anakmu ini??!!
"Gini nih, Bapak jelasin." Sepertinya Bapak tahu kebingungan yang ada di dalam otakku yang kualitasnya tak seberapa ini.
"Kamu bisa tahu gak kalau orang itu ikhlas dan tulus? Gak bisa! Yang bisa kamu lakuin hanyalah menebak-nebak."
"Dan belum tentu tebakanmu itu jitu!" Sambung Bapak.
Saat ini aku benar-benar bingung.
Bapak kembali mengambil rokok lalu menyalakannya.
"Pas SD dulu pasti diajarin ama guru untuk menyayangi orang lain dan untuk tidak menyakitinya kan? Semua agama pun pasti akan mengajarkan kasih sayang seperti itu kan?"
"Kalau kita belum bisa berbuat baik untuk orang lain,setidaknya janganlah kita menyakiti orang lain. Hargai dan hormati orang lain, terutama teman."
Ingatanku kembali ke masa sekolah dulu, mencoba mengingat-ingat tentang pelajaran moral di jaman dulu.
"Iya Pak, kurasa semua agama juga pasti mengajarkan kebaikan seperti itu."
Kali ini Bapak berpindah posisi duduknya.
"Naah, itu dia. Balik ke masalah tadi."
"Masalah teman kita itu tulus atau tidak, ikhlas atau tidaknya itu urusannya dia. Urusan kita adalah menjaga agar kita tidak menyakiti hatinya."
"Kamu bisa tahu gak mana amal perbuatanmu yang pasti diterima Allah? Mana amal ibadahmu yang pasti diterima-Nya? "
Busyet dah.. Pertanyaan macam apa ini?
"Ya gak tahu lah Pak." Jawabku singkat.
"Betul sekali, kita tidak akan bisa tahu itu."
Bapak mematikan rokok di asbak kayu hasil buatannya. Lalu dia melanjutkan lagi kalimatnya.
"Kita sebagai hamba Allah mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik mungkin. Masalah amal ibadah kita diterima atau tidaknya, itu hanya Allah yang tahu karena Dialah Yang Maha Tahu Segalanya. Menghormati dan menghargai sesama manusia juga termasuk ibadah. Dalam Islam, selain Habluminallah juga ada Hablumminannas kan?"
"Jangan pernah menyepelekan pemberian orang. Walau terlihat sederhana, walau tak seberapa, baik itu harga maupun jumlahnya, bukan tidak mungkin perjuangan dan pengorbanan besar harus dia lakukan demi itu."
Bapak kembali melanjutkan omongannya.
"Misalnya nih, ada orang yang sedang benar-benar gak punya uang, bahkan dia bingung belum makan sama sekali karena tidak punya uang. Terus ada temannya, misal si A yang memberikan uang Rp 10.000,00 ke dia. Selang beberapa saat, datang si B. Dia memberikan uang kepada orang itu sebesar Rp 50.000,00. Sekilas lebih banyak pemberian si B daripada si A kan?"
"Ada orang yang di dalam kondisi seperti itu berterima kasih dengan kedua temannya itu dengan kadar terima kasih yang sama, tapi ada juga yang berterima kasih dengan kadar yang berbeda. Mungkin karena si B memberikan uang yang jumlahnya lebih besar dari si A lalu dia lebih berterima kasih kepada si B."
Waaah..menarik nih kayaknya.
Bapak melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi orang tidak tahu berapa jumlah uang yang sebenarnya dimiliki oleh si A dan si B. Kalau uang si A ternyata hanya Rp 20.000,00 dan uang si B itu Rp 200.000,00 berarti lebih besar pengorbanan siapa? Si A kan?"
Wah..iya ya? Bener juga.
"Maka dari itu, sekecil apapun itu, kita harus menghargai pengorbanan orang lain." Lanjut Bapak.
"Itu tadi hanya contoh kecil, di kehidupan masih banyak contoh yang bisa ditemuin." Sambung Bapak.
Itulah sekilas obrolan saya dengan almarhum ayah saya di suatu sore.
Sebuah obrolan singkat dan ringan tapi bagi saya maknanya sangat dalam. Pemberian orang lain baik itu berupa tenaga ataupun barang pastilah terkandung pengorbanan di dalamnya.
Masalah keikhlasan dan ketulusan memang itu urusan orang itu sendiri dengan hatinya dan dengan Tuhannya.
Dan saya sendiri akan berusaha untuk tidak sakit hati jika pemberian saya ditolak oleh orang lain, sebuah pembelajaran tentang keikhlasan dan ketulusan untuk diri saya sendiri.
Artikel yang saya tulis ini bukan bermaksud untuk "menggurui" atau "sok pintar" dan lain sebagainya. Saya hanya ingin sekedar berbagi cerita. Saya sadar, derajat ilmu agama saya masih sangat rendah.
Semoga bermanfaat untuk semua.
Teruntuk almarhum Ayah saya :
Terima kasih atas semua bimbingan dan ajarannya.
Tugasmu di dunia fana sudah selesai Pak, biarkan anakmu yang melanjutkan apa yang engkau perjuangkan.
Di sore yang mendung itu, kami nongkrong bareng di teras rumah. Terkadang memang kami duduk di teras sembari membicarakan hal-hal yang enteng.
"Pasti pernah kan?" Tanya Bapak lagi.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala perlahan.
"Nah, pernah gak kamu berpikir kalau penolakanmu itu bisa bikin temanmu sakit hati?"
Busyet daah..kayaknya belum pernah atau bahkan belum sempat aku berpikir sejauh itu.
"Yaa..gak mikir sampai kesana sih Pak."
"Lagian Pak, kalau orang itu ikhlas nawarin sesuatu ke kita andaikata kita tolak kan harusnya dia gak sakit hati?" Aku balik bertanya.
Bapak membetulkan posisi kopiah yang menutupi rambutnya yang sebagian sudah berwarna putih.
"Masalah tulus dan ikhlas itu kan urusan dia ama Tuhannya. Masalah dia dengan hatinya sendiri."
Bapak berhenti sejenak, lalu dia berdiri untuk mengambil beberapa daun kering yang ada di teras rumah kemudian membuangnya ke tempat sampah.
Duh, lupa belum kusapu nih teras.
"Itu bukan urusan kita." Lanjut Bapak sembari mematikan puntung rokoknya.
"Nah, urusan kita ini adalah bagaimana menjaga perasaan orang lain, terutama teman kita. Janganlah kita sampai menyakiti hati atau perasaan teman kita."
Aduuh..benar-benar bingung aku. Ini maksudnya apa sih? Tujuan pembicaraannya kemana sih? Duuh Pak..jangan buat pusing anakmu ini??!!
"Gini nih, Bapak jelasin." Sepertinya Bapak tahu kebingungan yang ada di dalam otakku yang kualitasnya tak seberapa ini.
"Kamu bisa tahu gak kalau orang itu ikhlas dan tulus? Gak bisa! Yang bisa kamu lakuin hanyalah menebak-nebak."
"Dan belum tentu tebakanmu itu jitu!" Sambung Bapak.
Saat ini aku benar-benar bingung.
Bapak kembali mengambil rokok lalu menyalakannya.
"Pas SD dulu pasti diajarin ama guru untuk menyayangi orang lain dan untuk tidak menyakitinya kan? Semua agama pun pasti akan mengajarkan kasih sayang seperti itu kan?"
"Kalau kita belum bisa berbuat baik untuk orang lain,setidaknya janganlah kita menyakiti orang lain. Hargai dan hormati orang lain, terutama teman."
Ingatanku kembali ke masa sekolah dulu, mencoba mengingat-ingat tentang pelajaran moral di jaman dulu.
"Iya Pak, kurasa semua agama juga pasti mengajarkan kebaikan seperti itu."
Kali ini Bapak berpindah posisi duduknya.
"Naah, itu dia. Balik ke masalah tadi."
"Masalah teman kita itu tulus atau tidak, ikhlas atau tidaknya itu urusannya dia. Urusan kita adalah menjaga agar kita tidak menyakiti hatinya."
"Kamu bisa tahu gak mana amal perbuatanmu yang pasti diterima Allah? Mana amal ibadahmu yang pasti diterima-Nya? "
Busyet dah.. Pertanyaan macam apa ini?
"Ya gak tahu lah Pak." Jawabku singkat.
"Betul sekali, kita tidak akan bisa tahu itu."
Bapak mematikan rokok di asbak kayu hasil buatannya. Lalu dia melanjutkan lagi kalimatnya.
"Kita sebagai hamba Allah mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada-Nya dengan sebaik mungkin. Masalah amal ibadah kita diterima atau tidaknya, itu hanya Allah yang tahu karena Dialah Yang Maha Tahu Segalanya. Menghormati dan menghargai sesama manusia juga termasuk ibadah. Dalam Islam, selain Habluminallah juga ada Hablumminannas kan?"
"Jangan pernah menyepelekan pemberian orang. Walau terlihat sederhana, walau tak seberapa, baik itu harga maupun jumlahnya, bukan tidak mungkin perjuangan dan pengorbanan besar harus dia lakukan demi itu."
Bapak kembali melanjutkan omongannya.
"Misalnya nih, ada orang yang sedang benar-benar gak punya uang, bahkan dia bingung belum makan sama sekali karena tidak punya uang. Terus ada temannya, misal si A yang memberikan uang Rp 10.000,00 ke dia. Selang beberapa saat, datang si B. Dia memberikan uang kepada orang itu sebesar Rp 50.000,00. Sekilas lebih banyak pemberian si B daripada si A kan?"
"Ada orang yang di dalam kondisi seperti itu berterima kasih dengan kedua temannya itu dengan kadar terima kasih yang sama, tapi ada juga yang berterima kasih dengan kadar yang berbeda. Mungkin karena si B memberikan uang yang jumlahnya lebih besar dari si A lalu dia lebih berterima kasih kepada si B."
Waaah..menarik nih kayaknya.
Bapak melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi orang tidak tahu berapa jumlah uang yang sebenarnya dimiliki oleh si A dan si B. Kalau uang si A ternyata hanya Rp 20.000,00 dan uang si B itu Rp 200.000,00 berarti lebih besar pengorbanan siapa? Si A kan?"
Wah..iya ya? Bener juga.
"Maka dari itu, sekecil apapun itu, kita harus menghargai pengorbanan orang lain." Lanjut Bapak.
"Itu tadi hanya contoh kecil, di kehidupan masih banyak contoh yang bisa ditemuin." Sambung Bapak.
Itulah sekilas obrolan saya dengan almarhum ayah saya di suatu sore.
Sebuah obrolan singkat dan ringan tapi bagi saya maknanya sangat dalam. Pemberian orang lain baik itu berupa tenaga ataupun barang pastilah terkandung pengorbanan di dalamnya.
Masalah keikhlasan dan ketulusan memang itu urusan orang itu sendiri dengan hatinya dan dengan Tuhannya.
Dan saya sendiri akan berusaha untuk tidak sakit hati jika pemberian saya ditolak oleh orang lain, sebuah pembelajaran tentang keikhlasan dan ketulusan untuk diri saya sendiri.
Artikel yang saya tulis ini bukan bermaksud untuk "menggurui" atau "sok pintar" dan lain sebagainya. Saya hanya ingin sekedar berbagi cerita. Saya sadar, derajat ilmu agama saya masih sangat rendah.
Semoga bermanfaat untuk semua.
Teruntuk almarhum Ayah saya :
Terima kasih atas semua bimbingan dan ajarannya.
Tugasmu di dunia fana sudah selesai Pak, biarkan anakmu yang melanjutkan apa yang engkau perjuangkan.
Friday, 4 September 2015
Ketika Objek Wisata Menjadi Tempat Pembuangan Sampah
Tulisan saya ini masih ada hubungannya dengan tulisan sebelumnya yang berjudul Pecinta Alam atau Perusak Alam.
Indonesia adalah suatu negara dengan kekayaan alam yang melimpah, termasuk di dalamnya adalah wisata alamnya. Bahkan hal itu yang menjadikan Indonesia terkenal di mata dunia.
Bahkan dengan adanya sosial media, beberapa objek wisata yang "tersembunyi' pun bisa menjadi populer. Objek wisata yang awalnya sepi bisa berubah menjadi populer setelah beberapa wisatawan mempublikasikannya di sosial media, baik itu melalui tulisan atau melalui foto-foto.
Ironisnya, beberapa tempat wisata yang populer dan terkenal karena sosial media menjadi ramai dan kotor oleh sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para wisatawan.
Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena ketidaksiapan Pemerintah setempat dan atau mental dari wisatawan itu sendiri.
Terkadang ada beberapa objek wisata yang tidak menyediakan tempat sampah atau memiliki fasilitas tempat pembuangan sampah dengan jumlah yang minim.
Ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran dan kepedulian beberapa wisatawan yang dengan tanpa rasa dosa membuang sampahnya ke sembarang tempat.
Sebagai contoh, kita bisa melihat di beberapa media massa tentang banyaknya sampah yang terdapat di gunung-gunung yang sering didaki.
Ada pendaki yang mendaki gunung hanya untuk berfoto-foto dengan menantang bahaya, mengibarkan bendera atau menuliskan sebuah nama di kertas. Sayangnya, kertas-kertas tidak mereka buang begitu saja. Ditambah lagi sampah dari botol-botol air mineral yang mereka tinggalkan begitu saja.
Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menunjukkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Padahal, setiap hari gunung tersebut disambangi 200 hingga 500 pendaki. Artinya, di Gunung Semeru ada sekitar 250 kilogram sampah per hari.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Gunung Semeru. Sejumlah aktivis lingkungan mengatakan tumpukan sampah di taman nasional dan gunung di Indonesia menjadi panorama umum.
Begitu pula Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan, jalur pendakian Gunung Rinjani masih dipenuhi sampah.
Pihak BTNGR sudah berupaya mengatasi masalah sampah ini, salah satu upaya itu adalah memberikan kantong plastik kepada para pendaki sebagai tempat sampah, dan selanjutnya membawanya kembali turun ke bawah.
Namun seringkali para pendaki tidak membawa sampah saat turun dengan alasan sudah dibuang saat perjalanan turun. Karena itu, pengawasan terhadap para pendaki yang tidak ikut membawa sampahnya saat turun perlu ditingkatkan.
Kesadaran dari para pendaki juga sangat penting. Utamanya para porter atau penunjuk arah, untuk senantiasa memberi arahan kepada para pendaki agar tidak sembarangan membuang sampah.
Para pendaki gunung dan calon pendaki sendiri masih perlu banyak diedukasi agar lebih mau menjaga dan menghargai alam.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian alam kita, termasuk diantaranya objek wisata alam yang ada.
Hargai dan hormati alam kita seperti kita menghargai dan menghormati diri kita sendiri.
Referensi :
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/ironis-populer-lewat-media-sosial-obyek-wisata-penuh-sampah
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150625_indonesia_sampah_gunung
http://news.liputan6.com/read/2279408/dibanjiri-pendaki-gunung-rinjani-dipenuhi-sampah
http://travel.kompas.com/read/2015/08/30/123200427/Sampah.di.Gunung.Salah.Siapa.
Indonesia adalah suatu negara dengan kekayaan alam yang melimpah, termasuk di dalamnya adalah wisata alamnya. Bahkan hal itu yang menjadikan Indonesia terkenal di mata dunia.
Bahkan dengan adanya sosial media, beberapa objek wisata yang "tersembunyi' pun bisa menjadi populer. Objek wisata yang awalnya sepi bisa berubah menjadi populer setelah beberapa wisatawan mempublikasikannya di sosial media, baik itu melalui tulisan atau melalui foto-foto.
Ironisnya, beberapa tempat wisata yang populer dan terkenal karena sosial media menjadi ramai dan kotor oleh sampah-sampah yang ditinggalkan oleh para wisatawan.
Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya karena ketidaksiapan Pemerintah setempat dan atau mental dari wisatawan itu sendiri.
Terkadang ada beberapa objek wisata yang tidak menyediakan tempat sampah atau memiliki fasilitas tempat pembuangan sampah dengan jumlah yang minim.
Ditambah lagi dengan kurangnya kesadaran dan kepedulian beberapa wisatawan yang dengan tanpa rasa dosa membuang sampahnya ke sembarang tempat.
Sebagai contoh, kita bisa melihat di beberapa media massa tentang banyaknya sampah yang terdapat di gunung-gunung yang sering didaki.
![]() | |
| sumber : www. wisatagunung.com |
![]() |
| sumber : jogja.tribunnews.com |
Ada pendaki yang mendaki gunung hanya untuk berfoto-foto dengan menantang bahaya, mengibarkan bendera atau menuliskan sebuah nama di kertas. Sayangnya, kertas-kertas tidak mereka buang begitu saja. Ditambah lagi sampah dari botol-botol air mineral yang mereka tinggalkan begitu saja.
Data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menunjukkan setiap pengunjung membuang sekitar 0,5 kilogram sampah di Gunung Semeru. Padahal, setiap hari gunung tersebut disambangi 200 hingga 500 pendaki. Artinya, di Gunung Semeru ada sekitar 250 kilogram sampah per hari.
Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Gunung Semeru. Sejumlah aktivis lingkungan mengatakan tumpukan sampah di taman nasional dan gunung di Indonesia menjadi panorama umum.
Begitu pula Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan, jalur pendakian Gunung Rinjani masih dipenuhi sampah.
Pihak BTNGR sudah berupaya mengatasi masalah sampah ini, salah satu upaya itu adalah memberikan kantong plastik kepada para pendaki sebagai tempat sampah, dan selanjutnya membawanya kembali turun ke bawah.
Namun seringkali para pendaki tidak membawa sampah saat turun dengan alasan sudah dibuang saat perjalanan turun. Karena itu, pengawasan terhadap para pendaki yang tidak ikut membawa sampahnya saat turun perlu ditingkatkan.
Kesadaran dari para pendaki juga sangat penting. Utamanya para porter atau penunjuk arah, untuk senantiasa memberi arahan kepada para pendaki agar tidak sembarangan membuang sampah.
Para pendaki gunung dan calon pendaki sendiri masih perlu banyak diedukasi agar lebih mau menjaga dan menghargai alam.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian alam kita, termasuk diantaranya objek wisata alam yang ada.
Hargai dan hormati alam kita seperti kita menghargai dan menghormati diri kita sendiri.
Referensi :
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/08/ironis-populer-lewat-media-sosial-obyek-wisata-penuh-sampah
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150625_indonesia_sampah_gunung
http://news.liputan6.com/read/2279408/dibanjiri-pendaki-gunung-rinjani-dipenuhi-sampah
http://travel.kompas.com/read/2015/08/30/123200427/Sampah.di.Gunung.Salah.Siapa.
Labels:
adventure,
alam,
artikel,
gunung,
Indonesia,
journey,
kebersihan,
lingkungan,
nature,
peduli,
sampah,
travelling,
trip
Wednesday, 2 September 2015
Pecinta Alam atau Perusak Alam
Bagi yang sering atau hobi menonton acara televisi pasti pernah atau sering menonton acara yang berbau petualangan-petualangan seru. Kita bisa melihat pemandangan yang indah dan menawan yang ada di Indonesia dan tentu saja dengan dilengkapi oleh pembawa acara yang tak kalah menariknya.
Lagian, gak mungkin banget kan orang jelek disuruh membawakan sebuah acara televisi? Bisa-bisa jeblok tuh rating hahahahahaa...
Banyaknya akun di sosial media yang bertemakan travelling atau adventure juga mendorong jiwa-jiwa muda untuk beranjak berpetualang.
Kalimat yang sering diposting di sosial media seperti "Jangan di rumah saja, Indonesia itu indah lho" membuat banyak anak muda termotivasi untuk menikmati alam Indonesia.
Hal-hal seperti itu berhasil menggugah hasrat anak muda untuk ikutan berpetualang seperti itu.
Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang mendaki gunung. Sebagai orang yang hidup dan dibesarkan di daerah pegunungan, saya bisa melihat perbedaan jumlah pendaki yang signifikan jika dibandingkan dengan jaman dulu.
Bagi saya itu suatu hal yang positif apalagi dari segi ekonomi.
Bisa memberikan rezeki untuk para sopir bis, untuk para penyewa alat-alat gunung ataupun untuk warga di kaki gunung.
Tujuan untuk memperkenalkan alam Indonesia yang cantik dan indah ke dunia luar pun bisa dibilang sukses. Banyak pendaki yang mendaki sembari memotret pemandangan yang ada kemudian di upload di sosial media seperti Facebook atau Instagram yang tentu saja bisa dilihat oleh semua orang ada di dunia.
Tentu saja selama akunnya tidak diprivat lho ya ini hahahahaa...
Gunung yang biasanya sepi menjadi ramai, khususnya di akhir pekan ataupun di musim liburan.
Dan tentu saja Pemerintah akan ikutan untuk senang dan berbangga karena misi untuk menarik wisatawan supaya datang berkunjung sedikit banyak telah dibantuk oleh anak-anak muda itu.
Terus,adakah hubungannya artikel ini dengan judul di atas?
Tentu saja ada.
Untuk semua hal (apapun itu) pasti ada efek positif dan efek negatifnya.
Apakah berpetualang itu menimbulkan efek negatif?
Selama petualangan itu dilakukan oleh pecinta alam yang sesungguhnya, saya kita tidak akan ada efek negatif yang akan ditimbulkan. Efek negatif itu hanya akan muncul jika petualangan atau pendakian tersebut dilakukan oleh para "pecinta alam".
Pecinta alam dengan tanda kutip tersebut adalah bukan pecinta alam sesungguhnya. Mereka hanyalah pecinta alam abal-abal.
Seorang pecinta alam yang sesungguhnya jikalau mendatangi suatu objek wisata pasti mempunyai prinsip "Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu, dan jangan mengambil sesuatu kecuali foto/gambar."
Bagaimana dengan pecinta alam abal-abal yang nan alay tersebut? Mereka sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Mungkin yang terpenting bagi mereka adalah bisa berfoto-foto selfie di ketinggian atau di tempat yang bagus lalu di share di akun sosial medianya. Mereka berlomba-lomba untuk pamer foto atau untuk sekedar tampak gagah.
Di saat mendaki gunung pun mereka biasanya tanpa persiapan yang memadai. Tanpa persiapan fisik dan mental, tidak mengetahui atau kurangnya pengetahuan tentang rute yang akan ditempuh, dan tanpa membawa perlengkapan yang memadai,bahkan termasuk diantaranya adalah logistik.
Takjarang mereka bersikap sok jago dengan mencari jalur baru di luar jalur resmi yang ada dengan alasan mencari tantangan.
Hal-hal seperti itu bisa berakibat fatal, mulai dari kelaparan, hipotermia, tersesat dan bahkan kecelakaan yang mengakibatkan cedera fatal atau meninggal.
Terus apa yang dilakukan oleh "pecinta alam" itu saat di alam?
Coret sana-sini sepertinya menjadi sebuah ritual wajib resmi mereka, untuk menandakan bahwa mereka pernah disini atau untuk menuliskan nama orang yang mereka cintai.
Batu, kayu, pohon dan benda-benda lain menjadi korban ritual mereka.
Atau mungkin yang sedang menjadi trend sekarang adalah menuliskan sesuatu di kertas kemudian difoto dengan menggunakan background pemandangan yang ada.
Hal tersebut memang tidak salah selama kertas itu dibawa pulang lagi atau setidaknya tidak dibuang sembarangan.
Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan menumpuknya sampah-sampah di daerah gunung. Belum lagi botol-botol air mineral atau sampah-sampah yang lain yang ditinggalkan begitu saja. Seakan-akan gunung/alam sudah menjadi tempat pembuangan sampah.
Ingat "Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak!"
Kita mungkin sudah mengetahui dari media massa bahwa ada beberapa gunung yang mengalami kebakaran di hutannya dengan berbagai macam penyebabnya.
Ada yang disebabkan karena puntung rokok yang dibuang secara sembarangan oleh pendaki dan ada yang disebabkan karena api unggun yang belum benar-benar dimatikan.
Hanya karena kelalaian yang kecil berakibat fatal bagi semua, termasuk habitat dan ekosisten yang ada di gunung.
Saya sama sekali tidak menyalahkan acara-acara yang ada di televisi yang bertemakan petualangan/adventure ataupun akun-akun adventure di sosial media karena semua itu pasti diimbangi dengan adanya petuah-petuah tentang lingkungan.
Tapi sayangnya tidak semua orang yang berpetualang itu tidak disertai dengan kesadaran hati tentang lingkungan.
Bagi mereka, yang penting berpetualang, yang penting terlihat gagah, yang penting bisa posting foto-foto di sosial media.
Bagi Anda yang benar-benar ingin berpetualang di alam bebas, marilah sama-sama kita menjaga alam kita demi anak cucu kita kelak.
Jadilah pencinta alam yang sesungguhnya. Hargailah alam seperti kita menghargai diri kita sendiri.
Ingat, semua yang ada di alam kita ini adalah titipan dari Tuhan untuk anak cucu kita.
Lagian, gak mungkin banget kan orang jelek disuruh membawakan sebuah acara televisi? Bisa-bisa jeblok tuh rating hahahahahaa...
Banyaknya akun di sosial media yang bertemakan travelling atau adventure juga mendorong jiwa-jiwa muda untuk beranjak berpetualang.
Kalimat yang sering diposting di sosial media seperti "Jangan di rumah saja, Indonesia itu indah lho" membuat banyak anak muda termotivasi untuk menikmati alam Indonesia.
Hal-hal seperti itu berhasil menggugah hasrat anak muda untuk ikutan berpetualang seperti itu.
Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya anak muda yang mendaki gunung. Sebagai orang yang hidup dan dibesarkan di daerah pegunungan, saya bisa melihat perbedaan jumlah pendaki yang signifikan jika dibandingkan dengan jaman dulu.
Bagi saya itu suatu hal yang positif apalagi dari segi ekonomi.
Bisa memberikan rezeki untuk para sopir bis, untuk para penyewa alat-alat gunung ataupun untuk warga di kaki gunung.
Tujuan untuk memperkenalkan alam Indonesia yang cantik dan indah ke dunia luar pun bisa dibilang sukses. Banyak pendaki yang mendaki sembari memotret pemandangan yang ada kemudian di upload di sosial media seperti Facebook atau Instagram yang tentu saja bisa dilihat oleh semua orang ada di dunia.
Tentu saja selama akunnya tidak diprivat lho ya ini hahahahaa...
Gunung yang biasanya sepi menjadi ramai, khususnya di akhir pekan ataupun di musim liburan.
Dan tentu saja Pemerintah akan ikutan untuk senang dan berbangga karena misi untuk menarik wisatawan supaya datang berkunjung sedikit banyak telah dibantuk oleh anak-anak muda itu.
Terus,adakah hubungannya artikel ini dengan judul di atas?
Tentu saja ada.
Untuk semua hal (apapun itu) pasti ada efek positif dan efek negatifnya.
Apakah berpetualang itu menimbulkan efek negatif?
Selama petualangan itu dilakukan oleh pecinta alam yang sesungguhnya, saya kita tidak akan ada efek negatif yang akan ditimbulkan. Efek negatif itu hanya akan muncul jika petualangan atau pendakian tersebut dilakukan oleh para "pecinta alam".
Pecinta alam dengan tanda kutip tersebut adalah bukan pecinta alam sesungguhnya. Mereka hanyalah pecinta alam abal-abal.
Seorang pecinta alam yang sesungguhnya jikalau mendatangi suatu objek wisata pasti mempunyai prinsip "Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, Jangan membunuh sesuatu kecuali waktu, dan jangan mengambil sesuatu kecuali foto/gambar."
Bagaimana dengan pecinta alam abal-abal yang nan alay tersebut? Mereka sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Mungkin yang terpenting bagi mereka adalah bisa berfoto-foto selfie di ketinggian atau di tempat yang bagus lalu di share di akun sosial medianya. Mereka berlomba-lomba untuk pamer foto atau untuk sekedar tampak gagah.
Di saat mendaki gunung pun mereka biasanya tanpa persiapan yang memadai. Tanpa persiapan fisik dan mental, tidak mengetahui atau kurangnya pengetahuan tentang rute yang akan ditempuh, dan tanpa membawa perlengkapan yang memadai,bahkan termasuk diantaranya adalah logistik.
Takjarang mereka bersikap sok jago dengan mencari jalur baru di luar jalur resmi yang ada dengan alasan mencari tantangan.
Hal-hal seperti itu bisa berakibat fatal, mulai dari kelaparan, hipotermia, tersesat dan bahkan kecelakaan yang mengakibatkan cedera fatal atau meninggal.
Terus apa yang dilakukan oleh "pecinta alam" itu saat di alam?
Coret sana-sini sepertinya menjadi sebuah ritual wajib resmi mereka, untuk menandakan bahwa mereka pernah disini atau untuk menuliskan nama orang yang mereka cintai.
Batu, kayu, pohon dan benda-benda lain menjadi korban ritual mereka.
Atau mungkin yang sedang menjadi trend sekarang adalah menuliskan sesuatu di kertas kemudian difoto dengan menggunakan background pemandangan yang ada.
Hal tersebut memang tidak salah selama kertas itu dibawa pulang lagi atau setidaknya tidak dibuang sembarangan.
Hal-hal seperti itulah yang mengakibatkan menumpuknya sampah-sampah di daerah gunung. Belum lagi botol-botol air mineral atau sampah-sampah yang lain yang ditinggalkan begitu saja. Seakan-akan gunung/alam sudah menjadi tempat pembuangan sampah.
Ingat "Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak!"
Kita mungkin sudah mengetahui dari media massa bahwa ada beberapa gunung yang mengalami kebakaran di hutannya dengan berbagai macam penyebabnya.
Ada yang disebabkan karena puntung rokok yang dibuang secara sembarangan oleh pendaki dan ada yang disebabkan karena api unggun yang belum benar-benar dimatikan.
Hanya karena kelalaian yang kecil berakibat fatal bagi semua, termasuk habitat dan ekosisten yang ada di gunung.
Saya sama sekali tidak menyalahkan acara-acara yang ada di televisi yang bertemakan petualangan/adventure ataupun akun-akun adventure di sosial media karena semua itu pasti diimbangi dengan adanya petuah-petuah tentang lingkungan.
Tapi sayangnya tidak semua orang yang berpetualang itu tidak disertai dengan kesadaran hati tentang lingkungan.
Bagi mereka, yang penting berpetualang, yang penting terlihat gagah, yang penting bisa posting foto-foto di sosial media.
Bagi Anda yang benar-benar ingin berpetualang di alam bebas, marilah sama-sama kita menjaga alam kita demi anak cucu kita kelak.
Jadilah pencinta alam yang sesungguhnya. Hargailah alam seperti kita menghargai diri kita sendiri.
Ingat, semua yang ada di alam kita ini adalah titipan dari Tuhan untuk anak cucu kita.
Tuesday, 3 March 2015
Sahabat Sejati
Kita sebagai manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan ini,kita membutuhkan orang lain,kita tidak bisa hidup sendiri dan orang lain pun memerlukan kita. Oleh karena itu,kita harus berinteraksi dengan manusia-manusia yang lain.
Di saat kita berinteraksi dengan manusia yang lain, kita akan menemukan apa yang namanya teman, sahabat dan saudara, bahkan juga musuh.
Di jaman modern seperti saat ini, teknologi membuat kita bisa memiliki banyak teman. Kita bisa menambah pertemanan di sosial media seperti Facebook, Path, Twitter dan lain-lain. Bahkan kita bisa menambahkan melalui beberapa media chat seperti Blackberry messanger (BBM), Wechat, Line dan lain sebagainya. Dan kita juga bisa seenaknya menghapus pertemanan hanya dengan menghapus nama mereka dari daftar pertemanan kita. Itu semua hak kita, hak mutlak kita utk melakukan itu semua.
Namun pada kenyataannya, ada beberapa orang yang belum menemukan teman sejati walaupun dia mempunyai "teman" yang banyak. Anda mungkin setuju bahwa teman/sahabat sejati itu sangat penting. Menjadi seorang sahabat tidak cukup hanya dengak mengklik sebuah link di layar komputer atau smartphone anda.
Teman adalah orang-orang yang selalu menemani kita dalam perjalanan hidup.
Hitung saja, berapa jumlah teman yang kamu punya dari masa kecilmu? Banyak
sekali, ‘kan? Tapi akuilah, tak semua dari mereka berada di tingkat pertemanan
yang sama. Ada beberapa yang lebih dari teman biasa, para sahabat sejati yang
selalu hadir dan menempati ruang spesial di daftar pertemanan Anda.
![]() |
| source : Dagelan |
Tidak mudah untuk mendapatkan teman sejati, apalagi banyak orang yang
hanya ingin berteman dengan kita karena alasan tertentu saja. Mungkin
karena harta, popularitas, jabatan, fisik kita atau alasan yang lain.
Saya coba paparkan beberapa ciri-ciri orang yang menjadi sabahat/teman sejati kita, yaitu:
1. Dia menjadi Pendengar yang Baik.
Teman sejati akan mendengarkan keluh-kesah kita tanpa mengeluh dan juga tanpa menghakimi kita. Bahkan terkadang, dia akan memberikan solusi dan saran. Teman sejati bahkan akan rela mengorbankan waktunya untuk mendengarkan curhatan anda, disaat anda membutuhkannya.
2. Teman Sejati Selalu Jujur.
Jika orang itu adalah teman/sahabat sejati Anda, dia akan selalu jujur kepada anda. Dia tidak akan pernah menusuk Anda dari belakang. Dia juga mungkin akan mengungkapkan apa saja kekurangan/kelemahan kita secara langsung dan tentu saja itu bertujuan untuk kebaikan kita sendiri supaya kita bisa instropeksi dan memperbaikinya.
![]() |
| source : Dagelan |
3. Siap Membantu.
Ketika Anda membutuhkan pertolongan dan bantuannya, dia selalu siap untuk Anda. Bahkan disaat dia tidak sanggup atau tidak mampu, dia akan berusaha membantu atau bersama-sama kita mencari bantuan. Apapun caranya, bagaimanapun itu, dia tidak akan pernah meninggalkan Anda saat Anda membutuhkan uluran tangannya.
Dengan kata lain, seorang teman/sahabat sejati akan selalu ada untuk kita,baik di saat suka ataupun duka.
4. Tidak Bersaing/berkompetisi.
Persahabatan merupakan sebuah kerjasama yang terjalin karena sebuah rasa kesetiakawanan dan bukan sebuah kompetisi atau persaingan.
Di saat Anda sukses meraih mimpi Anda, teman sejati akan ikut merasa bahagia dan bangga, begitu juga sebaliknya. Dan mereka akan membuang jauh-jauh rasa iri dan dengki serta tidak akan berusaha untuk menurunkan rasa percaya diri Anda.
5. Memberikan Ruang dan Kebebasan.
Seorang sahabat sejati akan memberikan kebebasan penuh kepada anda dan mungkin bahkan tidak akan mencampuri urusan pribadi Anda kecuali jika diminta oleh Anda. Dia tahu dan paham bahwa ktia membutuhkan ruang untuk diri kita sendiri.
Selain itu, dia juga akan selalu menghargai pendapat Anda.
Dia akan memberikan Anda waktu untuk sendirian atau untuk menyelesaikan segala urusan Anda sendiri disaat Anda memang menginginkannya.
6. Ikut Merasa Apa yang Anda Rasakan.
Yang terpenting adalah teman sejati akan ikut merasakan apa yang Anda rasakan. Jika Anda senang, dia akan ikut senang. Dan jika Anda sedih,dia akan ikut merasa sedih.
Dia melakukan itu semua dengan segala ketulusan hatinya.
7. Konyol dan Lucu
Teman sejati mungkin akan bertingkah laku konyol, dan itu akan terlihat berbeda dengan teman biasa.
Hal itu disebabkan karena dia melakukan itu semua dengan tulus.
Sahabat yang konyol dan jenaka mungkin akan susah untuk kita lupakan begitu saja. Walaupun kita pernah dibuat jengkel karena kekonyolannya, tapi suatu saat kita akan merindukan itu kembali.
![]() |
| source : Dagelan |
Pegang Pundakku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Mulai Lelah? Lelah Dan Tak Bersinar
Remas Sayapku, Jangan Pernah Lepaskan
Bila Ku Ingin Terbang? Terbang Meninggalkanmu
Penggalan lirik lagu dari Sheila on 7 yang berjudul Sahabat Sejati ini membuat kita sadar apa itu teman dan sahabat sejati.
Ketika Anda sudah tahu dan paham bagaimana ciri-ciri orang yang menjadi sahabat sejati, sekarang giliran Anda untuk berbuat seperti itu kepada orang-orang yang Anda anggap sahabat sejati Anda.
Jagalah baik-baik sahabat/teman sejati kita, jangan sampai kita kehilangan mereka. Dan jangan juga Anda menghilang dari mereka karena selain keluarga, mereka lah orang-orang yang berperan penting dalam hidup kita.
![]() |
| source : Dagelan |
Janganlah mencari kawan/teman hanya karena faktor harta, fisik, dan popularitas saja. Bertemanlah semua orang. Perluaslah pergaulan kita.
Memang benar kita perlu berhati-hati memilih kawan/teman. Namun itu tidak berarti kita hanya berteman dengan orang yang seumuran atau yang memiliki latar belakang tertentu saja.
Jika kita berteman dengan orang-orang dari segala aspek,baik itu usia, budaya dan kebangsaan, wawasan kita tentunya akan semakin luas.
Anda tidak perlu memakai "topeng" untuk mencari teman. Tunjukkanlah diri Anda apa adanya. Tidak perlu berpura-pura menjadi orang kaya ataupun menjadi seseorang yang super karena teman sejati akan setia menemani kita karena segala kekurangan kita.
![]() |
| source : Dagelan |
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua sahabat-sahabat baik saya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu sebagai ucapan terima kasih karena sudah bersedia menemani, membimbing, mencaci-maki, menghibur dan merangkul saya dengan segala kekurangan yang saya miliki.
Dan untuk teman yang telah "menghapus" saya dari daftar temannya, tenang...saya masih menganggap dirimu teman walaupun engkau sudah sama sekali tidak menganggap saya teman sama sekali.
Untuk sahabat-sahabat saya yang sudah dipanggil oleh-Nya, semoga kalian tenang disana dan mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.
I'll always remember you!!
Subscribe to:
Posts (Atom)
Looped Slider
Total Pageviews
Find Us On Facebook
Random Posts
Social Share
Sponsor
Recent comments
Linkbar
About This Blog
Footer
Contact With Us
Recent Comments
Popular Posts
-
Dampak ekonomi karena pandemik virus Corona ini benar-benar dirasakan oleh semua orang, termasuk saya sendiri. Sebagai seorang yang bergerak...
-
I am with you my friend Kawan, aku tahu keadaan ini sungguh berat bagimu, sungguh menyiksamu, tak perlu kau tutupi itu. Aku paham den...
-
Ketika kita mendengar kata "Rentenir", pasti pikiran kita akan langsung mengarah ke perihal hutang. Memang hal tersebut tidaklah s...
-
Ada kalanya kebaikanmu akan disepelekan, tidak dihargai bahkan diabaikan oleh orang lain. Atau yang lebih parah lagi adalah kamu mendapatkan...
-
Jangan seperti aku, Aku ini tahu sedikit tentang sangat sedikit hal, Aku ini sok ilmiah, Padahal sebenarnya aku tidak paham betul apa yan...
-
Kepada Yth : Tuhanku Sang Penguasa Alam Semesta Di tempat. Bersamaan dengan surat ini, hamba ingin memohon izin beberapa hal kepada-Mu w...
-
Tulisan saya ini masih ada hubungannya dengan tulisan sebelumnya yang berjudul Pecinta Alam atau Perusak Alam. Indonesia adalah suatu negar...
-
Lelaki bertampang kusam itu hanya duduk terdiam di pojokan ruangan, ruangannya yang sempit, layaknya seekor kecoak yang terjepit tak berda...
-
Lama juga saya tidak membuka dan menulis disini, mungkin karena saya terlalu fokus di dunia nyata dan blog yang saya buka bukan yang ini tap...
-
Bagi yang sering atau hobi menonton acara televisi pasti pernah atau sering menonton acara yang berbau petualangan-petualangan seru. Kita bi...















